Boule de Suif (Boule de Suif ~ Guy de Maupassant)

Selama beberapa hari berturut-turut, sisa-sisa sebuah pasukan yang kalah melewati kota. Mereka adalah kelompok-kelompok yang tidak terorganisir, bukan pasukan yang teratur. Orang-orang itu berjenggot panjang dan kotor serta mengenakan seragam compang-camping; mereka berbaris dengan lesu, tanpa bendera, tanpa pemimpin. Semua terlihat lelah, letih, tidak bisa berpikir atau mengambil keputusan, berbaris maju hanya karena kebiasaan, dan roboh ke tanah karena kelelahan begitu mereka berhenti. Terlihat, khususnya, banyak prajurit biasa, warga sipil yang damai, orang-orang yang hidup tenang dengan penghasilan mereka, terbungkuk di bawah beban senapan mereka; dan sedikit sukarelawan yang lincah, mudah gentar tapi penuh antusiasme, sama bersemangatnya untuk menyerang seperti semangatnya untuk cepat-cepat melarikan diri; dan di antara mereka, beberapa tentara berseragam merah, sisa-sisa menyedihkan dari sebuah divisi yang hancur dalam pertempuran besar; prajurit artileri yang muram, berdampingan dengan prajurit infanteri yang tidak bisa digambarkan; Dan, di sana-sini, helm berkilauan seorang dragoon1 yang langkahnya berat, yang kesulitan mengikuti langkah cepat para prajurit yang berbaris. Legiun pasukan tidak tetap dengan nama-nama yang terdengar hebat itu —’Pembalas Dendam,’ ‘Penghuni Kuburan,’ ‘Saudara Dalam Kematian’— berlalu bergantian, terlihat seperti bandit. Para pemimpin mereka, mantan pedagang kain atau gandum, atau pedagang lilin atau sabun —pejuang karena keadaan, perwira karena kumis atau uang mereka— berselimutkan senjata, kain flanel, dan renda emas, berbicara dengan cara yang mengesankan, membahas rencana-rencana perang, dan berlagak seolah-olah merekalah satu-satunya yang memikul nasib Prancis yang sekarat di pundak mereka yang sombong; meskipun, sebenarnya, mereka sering kali takut pada anak buah mereka sendiri —para bajingan yang seringkali berani luar biasa, tapi sebenarnya adalah penjarah dan pemabuk.

Ada desas-desus bahwa pasukan Prusia akan segera memasuki Rouen.

Para anggota Garda Nasional, yang selama dua bulan terakhir melakukan pengintaian dengan sangat hati-hati di hutan sekitar, kadang-kadang menembak penjaga mereka sendiri, dan bersiap untuk bertempur setiap kali ada kelinci bersembunyi di semak-semak, kini sudah kembali ke rumah mereka. Senjata mereka, seragam mereka, semua perlengkapan mematikan yang mereka gunakan untuk menakut-nakuti semua penanda jalan di sepanjang jalan raya sejauh delapan mil, tiba-tiba dan secara ajaib menghilang.

Para prajurit Prancis terakhir baru saja menyeberangi Sungai Seine dalam perjalanan mereka ke Pont-Audemer, melalui Saint-Sever dan Bourg-Achard, dan di belakang mereka, sang jenderal yang kalah, tidak berdaya untuk berbuat apa-apa dengan sisa-sisa pasukannya yang menyedihkan, merasa putus asa atas kekalahan terakhir sebuah bangsa yang terbiasa dengan kemenangan dan dikalahkan secara telak meskipun memiliki keberanian yang legendaris, berjalan di antara dua ajudan.

Kemudian ketenangan yang dalam, ketakutan yang mencekam dan sunyi, menyelimuti kota. Banyak warga yang berperut buncit, yang sudah kehilangan kejantanannya karena bertahun-tahun hanya berkutat dengan urusan dagang, dengan cemas menunggu para penakluk, gemetar karena takut alat pemanggang atau pisau dapur mereka dianggap sebagai senjata.

Kehidupan seolah berhenti; toko-toko tutup, jalanan sepi. Sesekali seorang penduduk, terpesona oleh kesunyian, melintas dengan cepat di bawah bayang-bayang tembok. Kecemasan yang mencekam membuat orang bahkan mendambakan kedatangan musuh.

Pada sore hari setelah kepergian pasukan Prancis, sejumlah uhlan2, yang entah dari mana datangnya, dengan cepat melewati kota. Tidak lama kemudian, suatu massa hitam turun dari Bukit St. Catherine, sementara dua pasukan penyerang lainnya muncul masing-masing di jalan Darnetal dan Boisguillaume. Pasukan garda depan dari tiga korps tiba tepat pada saat yang sama di Lapangan Hotel de Ville, dan tentara Jerman menyerbu semua jalan di sekitarnya, batalion-batalionnya membuat trotoar bergemuruh dengan langkah mereka yang tegap dan terukur.

Perintah-perintah yang diteriakkan dalam bahasa asing dan parau menggema hingga ke jendela-jendela rumah yang terlihat mati dan sepi; sementara di balik jendela yang tertutup rapat, mata-mata yang penasaran mengintip para pemenang —sang penguasa kota, harta, dan nyawa mereka, kini, menurut ‘hak perang.’ Para penghuni, di kamar-kamar mereka yang gelap, diliputi ketakutan yang selalu mengikuti setelah bencana alam, setelah guncangan bumi yang mematikan, yang terhadapnya semua keterampilan dan kekuatan manusia tidak ada apa-apanya. Karena hal yang sama terjadi setiap kali tatanan yang mapan terganggu, ketika keamanan tidak lagi ada, ketika semua hak yang biasanya dilindungi oleh hukum manusia atau alam berada di bawah belas kasihan kekuatan yang tidak masuk akal dan biadab. Gempa bumi yang menghancurkan seluruh negeri di bawah atap yang runtuh; banjir yang lepas kendali, dan menelan dalam pusarannya mayat-mayat petani yang tenggelam, bersama dengan lembu yang mati dan balok-balok yang terlepas dari rumah-rumah yang hancur; atau tentara, yang diselimuti kemuliaan, membunuh mereka yang membela diri, menawan sisanya, menjarah atas nama Pedang, dan mengucap syukur kepada Tuhan diiringi gemuruh meriam —semua itu adalah cambuk yang mengerikan, yang menghancurkan semua kepercayaan pada keadilan abadi, semua keyakinan yang sudah diajarkan kepada kita untuk merasakan perlindungan Surga dan akal budi manusia.

Pasukan kecil tentara mengetuk setiap pintu, lalu menghilang ke dalam rumah; karena pihak yang kalah menyadari bahwa mereka harus bersikap sopan kepada para penakluk mereka.

Setelah beberapa saat, begitu ketakutan awal mereda, ketenangan kembali pulih. Di banyak rumah, perwira Prusia makan di meja yang sama dengan keluarga pemilik rumah. Mereka seringkali sopan dan terdidik, dan, karena kesantunan, menyatakan simpati kepada Prancis dan rasa enggan karena dipaksa untuk ikut dalam perang. Sentimen ini diterima dengan rasa terima kasih; selain itu, perlindungannya mungkin akan dibutuhkan suatu hari nanti. Dengan menggunakan sedikit taktik, jumlah orang yang ditempatkan di rumah seseorang bisa dikurangi; dan mengapa harus memancing permusuhan dengan orang yang kesejahteraan kita sepenuhnya bergantung padanya? Perilaku seperti itu akan lebih terlihat seperti nekat daripada berani. Dan kenekatan bukan lagi sifat warga Rouen seperti pada masa ketika kota mereka mendapatkan ketenaran karena pertahanan heroiknya. Akhirnya —alasan terakhir berdasarkan kesopanan nasional— penduduk Rouen saling mengatakan bahwa sudah sepantasnya untuk bersikap sopan di rumah sendiri, asalkan tidak ada memamerkan keakraban di depan umum dengan orang asing. Oleh karena itu, di luar rumah, warga sipil dan tentara tidak saling mengenal; tapi di dalam rumah keduanya mengobrol dengan bebas, dan setiap malam orang-orang Jerman itu tinggal sedikit lebih lama menghangatkan diri di perapian yang ramah.

Bahkan kota itu sendiri secara bertahap kembali ke penampilan biasanya. Orang Prancis jarang berjalan-jalan di luar, tapi jalan-jalan dipenuhi oleh tentara Prusia. Terlebih lagi, para perwira pasukan Blue Hussar3, yang dengan angkuh menyeret senjata maut mereka di sepanjang trotoar, tampaknya mereka tidak lebih meremehkan warga kota biasa daripada para perwira kavaleri Prancis yang minum di kafe yang sama tahun sebelumnya.

Tapi ada sesuatu di udara, sesuatu yang aneh dan halus, suasana asing yang tidak tertahankan seperti bau yang menusuk —bau invasi. Bau itu meresap ke dalam rumah-rumah dan tempat-tempat umum, mengubah rasa makanan, membuat orang membayangkan dirinya berada di negeri yang jauh, di tengah suku barbar yang berbahaya.

Para penakluk memungut uang, banyak sekali uang. Penduduk membayar apa yang diminta; mereka kaya. Tapi, semakin kaya seorang pedagang Norman4, semakin besar penderitaannya karena harus melepaskan apa yang menjadi miliknya, karena harus melihat sebagian hartanya berpindah ke tangan orang lain.

Begitupun, dalam radius enam atau tujuh mil dari kota, di sepanjang aliran sungai yang mengalir menuju Croisset, Dieppedalle, dan Biessart, para pendayung perahu dan nelayan sering kali menemukan mayat seorang Jerman yang membengkak dalam seragamnya, tewas akibat tikaman pisau atau pentungan, kepalanya hancur oleh batu, atau mungkin didorong dari jembatan ke sungai di bawahnya. Lumpur dasar sungai menelan tindakan-tindakan pembalasan yang samar ini —biadab, tapi sah; perbuatan-perbuatan berani yang tidak tercatat ini; serangan-serangan diam-diam yang penuh bahaya lebih besar daripada pertempuran yang terjadi di siang bolong, dan terlebih lagi, tanpa aura romantis. Karena kebencian terhadap orang asing selalu mempersenjatai beberapa jiwa pemberani, siap mati demi sebuah gagasan.

Akhirnya, karena para penyerbu, meskipun memberlakukan disiplin yang sangat ketat di kota itu, tidak melakukan tindakan mengerikan apa pun yang dituduhkan kepada mereka selama pawai kemenangan mereka, rakyat menjadi lebih berani, dan kebutuhan bisnis kembali membangkitkan semangat para pedagang setempat. Beberapa di antaranya memiliki kepentingan komersial penting di Havre —yang saat ini diduduki oleh tentara Prancis— dan ingin mencoba mencapai pelabuhan itu melalui jalur darat ke Dieppe, lalu menaiki kapal dari sana.

Melalui pengaruh para perwira Jerman yang mereka kenal, mereka memperoleh izin untuk meninggalkan kota dari jenderal yang memimpin.

Oleh karena itu, sebuah kereta besar beroda empat sudah disewa untuk perjalanan tersebut, dan sepuluh penumpang sudah mendaftarkan nama mereka kepada pemiliknya, mereka memutuskan untuk berangkat pada suatu pagi Selasa sebelum fajar, untuk menghindari keramaian.

***

Tanah membeku keras selama beberapa waktu terakhir, dan sekitar pukul tiga sore pada hari Senin —awan hitam besar dari utara terus menerus menurunkan salju sepanjang sore dan malam itu.

Pada pukul setengah empat pagi, para pelancong berkumpul di halaman Hotel de Normandie, tempat mereka akan mengambil tempat duduk di dalam kereta.

Mereka masih setengah tertidur, dan menggigil kedinginan di bawah selimut mereka. Mereka bisa saling melihat tapi samar-samar dalam kegelapan, dan tumpukan selimut musim dingin tebal yang membungkus mereka membuat mereka terlihat seperti sekumpulan pendeta gemuk dalam jubah panjang mereka. Tapi dua orang saling mengenali, yang ketiga menghampiri mereka, dan ketiganya mulai berbicara.

“Saya akan membawa istri saya,” kata salah satu dari mereka.

“Saya juga.”

“Saya juga.”

Orang yang pertama bicara menambahkan, “Kami tidak akan kembali ke Rouen, dan kalau Prusia mendekati Havre, kami akan menyeberang ke Inggris.”

Ternyata, ketiganya memiliki rencana yang sama, karena memiliki watak dan sifat yang serupa.

Kuda-kuda masih belum dipasangi kekang. Sebuah lentera kecil yang dibawa oleh seorang penjaga kandang sesekali muncul dari satu pintu gelap dan langsung menghilang di pintu lainnya. Derap kaki kuda, yang diredam oleh kotoran dan jerami kandang, terdengar dari waktu ke waktu, dan dari dalam bangunan terdengar suara seorang laki-laki, berbicara kepada hewan-hewan itu dan memaki mereka. Denting lonceng yang samar menunjukkan bahwa kekang sedang disiapkan; dentingan ini segera berkembang menjadi gemerincing terus-menerus, lebih keras atau lebih lembut sesuai dengan gerakan kuda, kadang-kadang berhenti sama sekali, lalu tiba-tiba berbunyi nyaring disertai dengan hentakan kaki kuda yang mengenakan sepatu besi di tanah.

Pintu tiba-tiba tertutup. Semua suara berhenti.

Orang-orang kota yang membeku itu terdiam; mereka tetap tidak bergerak, kaku karena kedinginan.

Tirai tebal dari kepingan salju putih yang berkilauan jatuh tanpa henti ke tanah; itu menghapus semua garis luar, menyelimuti semua benda dalam selubung busa es; tidak ada yang terdengar di seluruh kota yang sunyi dan terkurung musim dingin itu kecuali gemerisik samar dan tidak bernama dari salju yang jatuh —sebuah sensasi alih-alih suara— percampuran lembut atom-atom ringan yang tampaknya memenuhi seluruh ruang, menutupi seluruh dunia.

Laki-laki itu muncul kembali dengan lentera, menuntun seekor kuda yang terlihat murung dengan tali, yang jelas-jelas dibawa keluar dengan terpaksa. Penjaga kuda menempatkannya di samping tiang, mengikat tali kekang, dan menghabiskan beberapa waktu berjalan mengelilinginya untuk memastikan bahwa tali kekangnya baik-baik saja; karena dia hanya bisa menggunakan satu tangan, tangan yang lain sibuk memegang lentera. Saat hendak mengambil kuda kedua, dia memperhatikan sekelompok pelancong yang tidak bergerak, yang sudah pucat karena salju, dan berkata kepada mereka, “Mengapa kalian tidak masuk ke dalam kereta? Setidaknya kalian akan terlindung.”

Hal ini tampaknya tidak terlintas dalam pikiran mereka, dan mereka segera mengikuti sarannya. Ketiga laki-laki itu mendudukkan istri mereka di ujung kereta, lalu mereka sendiri masuk; terakhir, sosok-sosok samar lainnya yang diselimuti salju naik ke tempat duduk yang tersisa tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Lantai kereta ditutupi jerami, yang membuat kaki terbenam. Para perempuan di ujung ruangan, yang membawa penghangat kaki tembaga kecil yang dipanaskan dengan sejenis bahan bakar kimia, mulai menyalakannya, dan menghabiskan beberapa waktu untuk menjelaskan dengan suara rendah tentang keuntungannya, mengulang-ulang hal-hal yang sudah mereka ketahui sejak lama.

Akhirnya, enam kuda, bukan empat, dipasangkan ke kereta karena jalanan yang berat. Sebuah suara dari luar bertanya, "Apakah semua orang sudah di sini?"

Kemudian sebuah suara dari dalam menjawab, "Ya," dan mereka pun berangkat.

Kendaraan itu bergerak sangat lambat, seperti siput; roda-rodanya tenggelam ke dalam salju; seluruh badan kereta berderit dan mengerang; kuda-kuda tergelincir, terengah-engah, mengeluarkan uap, dan cambuk panjang kusir terus-menerus berderak, terbang ke sana kemari, melingkar, lalu menjulurkan panjangnya seperti seekor ular yang ramping, saat mencambuk bagian samping tubuh kuda yang bulat, yang seketika menegang saat berusaha mengerahkan tenaga lebih.

Tapi hari berlalu dengan cepat. Butiran salju ringan yang oleh seorang pelancong, penduduk asli Rouen, dibandingkan dengan hujan kapas, tidak lagi turun. Cahaya remang-remang menyaring melalui awan gelap dan tebal, yang membuat wilayah itu terlihat lebih putih menyilaukan sebagai kontrasnya, warna putih yang kadang-kadang terpecah oleh deretan pohon tinggi yang bertabur embun beku, atau oleh atap pondok yang diselimuti salju.

Di dalam kereta, para penumpang saling memandang dengan rasa ingin tahu dalam cahaya fajar yang redup.

Di bagian paling belakang, di tempat duduk terbaik, Monsieur5 dan Madame6 Loiseau, pedagang grosir anggur di Rue Grand-Pont, tertidur berhadapan. Sebelumnya bekerja sebagai juru tulis untuk seorang pedagang yang gagal dalam bisnisnya, Loiseau sudah membeli saham majikannya dan menghasilkan kekayaan untuk dirinya sendiri. Dia menjual anggur berkualitas buruk dengan harga sangat rendah kepada para pengecer di daerah tersebut, dan memiliki reputasi di antara teman dan kenalannya sebagai seorang penipu yang cerdik —seorang Norman sejati, penuh dengan lelucon dan tipu daya. Karakternya sebagai penipu begitu terkenal sehingga, di mulut warga Rouen, nama Loiseau sendiri menjadi sinonim untuk praktik curang.

Di atas dan di luar itu semua, Loiseau terkenal karena lelucon-lelucon praktisnya dalam segala bentuk —trik-triknya, baik yang bermaksud baik maupun jahat; dan tidak seorang pun bisa menyebut namanya tanpa langsung menambahkan, "Dia adalah orang  yang luar biasa —Loiseau." Dia bertubuh kecil dan berperut buncit, memiliki wajah kemerahan dengan kumis keabu-abuan.

Istrinya —tinggi, kuat, teguh, dengan suara lantang dan sikap yang tegas— mewakili semangat keteraturan dan perhitungan di rumah dagang yang dihidupkan Loiseau dengan aktivitasnya yang riang.

Di samping mereka, dengan pembawaan yang bermartabat, berasal dari kasta yang lebih tinggi, duduk Monsieur Carre-Lamadon, seorang laki-laki yang sangat penting, raja perdagangan kapas, pemilik tiga pabrik pemintalan, perwira Legiun Kehormatan, dan anggota Dewan Umum. Sepanjang masa kekuasaan Kekaisaran, dia tetap menjadi pemimpin oposisi yang bersikap baik, semata-mata untuk mendapatkan nilai yang lebih tinggi atas pengabdiannya ketika dia bergabung dengan pihak yang sementara itu ditentangnya dengan ‘senjata yang sopan,’ demikian menurut istilahnya sendiri.

Madame Carre-Lamadon, yang jauh lebih muda dari suaminya, adalah penghibur bagi semua perwira dari keluarga baik-baik yang ditempatkan di Rouen. Cantik, langsing, anggun, dia duduk berhadapan dengan suaminya, meringkuk di dalam mantel bulunya, dan menatap sedih ke arah interior kereta yang menyedihkan.

Di sebelahnya, Comte7 dan Comtesse8 Hubert de Breville, menyandang salah satu nama paling mulia dan tertua di Normandia. Sang count, seorang bangsawan lanjut usia dan berwajah aristokrat, berusaha untuk meningkatkan kemiripannya dengan Raja Henry IV9 melalui segala cara berdandan. Menurut legenda yang sangat dibanggakan keluarga itu, Henry IV pernah menjadi kekasih favorit seorang perempuan dari keluarga De Breville dan ayah dari anaknya —suami perempuan lemah itu, sebagai pengakuan atas fakta ini, diangkat menjadi count dan gubernur sebuah provinsi.

Kolega Monsieur Carre-Lamadon di Dewan Umum, Count Hubert mewakili partai Orleanist di departemennya. Kisah pernikahannya dengan putri seorang pemilik kapal kecil di Nantes selalu menjadi misteri. Tapi karena sang countess memiliki aura bangsawan yang tidak diragukan lagi, selalu mengadakan jamuan makan tanpa cela, dan bahkan diduga dicintai oleh putra Louis-Philippe10, para bangsawan berlomba-lomba untuk menghormatinya, dan ruang tamunya tetap menjadi yang paling eksklusif di seluruh wilayah —satu-satunya yang mempertahankan semangat kesopanan lama, dan akses ke sana tidak mudah.

Kekayaan keluarga Breville, yang semuanya berupa properti, konon mencapai lima ratus ribu franc per tahun.

Keenam orang ini menempati bagian paling ujung kereta, dan mewakili Masyarakat Kelas Atas —yang memiliki penghasilan— masyarakat yang kuat dan mapan yang terdiri dari orang-orang baik yang beragama dan berprinsip.

Secara kebetulan semua perempuan duduk di sisi yang sama; dan sang countess juga duduk bersebelahan dengan dua orang biarawati, yang menghabiskan waktu dengan memegang rosario panjang mereka dan menggumamkan doa Bapa Kami dan Salam Maria. Salah satu dari mereka sudah tua, dan begitu penuh dengan bekas cacar sehingga dia terlihat seperti terkena tembakan tepat di wajahnya. Yang lainnya, berpenampilan sakit-sakitan, memiliki wajah yang cantik tapi kurus, dan dada yang sempit dan bengkak karena penyakit TBC, terkuras oleh iman yang melahap yang menjadikan seseorang menjadi martir dan visioner.

Seorang laki-laki dan perempuan, yang duduk berhadapan dengan kedua biarawati itu, menarik perhatian semua orang.

Laki-laki itu —tokoh yang cukup terkenal— adalah Cornudet, seorang demokrat, momok bagi semua orang terhormat. Selama dua puluh tahun terakhir, janggut merahnya yang lebat sudah menjadi teman akrab bagi para peminum bir di semua kafe republikan. Dengan bantuan teman-teman dan saudara-saudaranya, dia sudah menghabiskan kekayaan yang cukup besar yang diwariskan ayahnya, seorang pembuat kue yang sudah mapan, dan sekarang dia dengan tidak sabar menunggu datangnya Republik, agar akhirnya dia bisa diberi penghargaan berupa jabatan yang akan diperolehnya melalui pesta-pesta revolusionernya. Pada tanggal empat September —mungkin sebagai akibat dari sebuah lelucon— dia dibuat percaya bahwa dia sudah diangkat menjadi prefek11; tapi ketika dia mencoba untuk menjalankan tugasnya, para pegawai yang bertanggung jawab atas kantor tersebut menolak untuk mengakui wewenangnya, dan akibatnya dia terpaksa mengundurkan diri. Sebagai orang yang baik dalam hal lain, tidak berbahaya dan suka menolong, dia dengan penuh semangat terjun ke dalam pekerjaan untuk membangun pertahanan kota yang terorganisir. Dia menggali lubang di daerah datar, menebang pohon-pohon muda di hutan, dan memasang jebakan di semua jalan; kemudian, saat musuh mendekat, merasa puas dengan persiapannya, dia segera kembali ke kota. Dia berpikir dia sekarang bisa berbuat lebih banyak di Havre, tempat parit pertahanan baru akan segera diperlukan.

Sementara si perempuan, yang termasuk sebagai pelacur kelas atas, terkenal karena tubuhnya yang montok tidak biasa untuk usianya, yang membuatnya mendapat julukan ‘Boule de Suif’ (Bola Lemak). Pendek dan bulat, gemuk seperti babi, dengan jari-jari bengkak yang menyempit di persendian, terlihat seperti deretan sosis pendek; dengan kulit yang mengkilap dan kencang serta dada yang sangat besar memenuhi bagian atas gaunnya, dia tetap menarik dan banyak dicari, karena penampilannya yang segar dan menyenangkan. Wajahnya seperti apel merah tua, kuncup peony yang baru saja mekar; dia memiliki dua mata gelap yang indah, dihiasi bulu mata tebal dan lebat, yang menaungi kedalaman matanya; mulutnya kecil, matang, layak dicium, dan dilengkapi dengan gigi putih yang sangat kecil.

Begitu dia dikenali, para perempuan terhormat dalam rombongan itu mulai berbisik-bisik di antara mereka sendiri, dan kata-kata ‘perempuan jalang’ dan ‘aib masyarakat’ diucapkan begitu keras sehingga Boule de Suif mengangkat kepalanya. Dia segera menatap orang-orang di sebelahnya dengan tatapan menantang dan berani sehingga tiba-tiba keheningan menyelimuti rombongan, dan semua menundukkan pandangan, kecuali Loiseau, yang mengamatinya dengan penuh minat.

***

Tapi percakapan segera berlanjut di antara ketiga perempuan yang lain, yang kehadiran perempuan itu tiba-tiba menyatukan mereka dalam ikatan persahabatan —bahkan bisa dibilang dalam ikatan keintiman. Mereka memutuskan bahwa mereka harus bersatu, seolah-olah, dalam martabat mereka sebagai istri yang sah di hadapan perempuan yang tidak tahu malu itu; karena ikatan cinta yang sah selalu memandang rendah saudaranya yang penuh kebebasan.

Ketiga laki-laki itu, yang juga disatukan oleh naluri konservatif tertentu yang bangkit karena kehadiran Cornudet, berbicara tentang masalah keuangan dengan nada yang menunjukkan penghinaan terhadap kaum miskin. Count Hubert menceritakan kerugian yang dideritanya di tangan Prusia, berbicara tentang ternak yang sudah dicuri darinya, panenannya yang hancur, dengan sikap santai seorang bangsawan sekaligus seorang jutawan, yang kerugian seperti itu hampir tidak akan membuatnya kesulitan selama setahun. Monsieur Carre-Lamadon, seorang laki-laki yang berpengalaman luas dalam industri kapas, sudah memastikan untuk mengirimkan enam ratus ribu franc ke Inggris sebagai bekal untuk masa sulit yang selalu diantisipasinya. Adapun Loiseau, dia sudah berhasil menjual semua anggur yang dimilikinya kepada dinas perbekalan dan logistik Prancis, sehingga negara sekarang berutang kepadanya sejumlah besar uang, yang diharapkannya akan diterimanya di Havre.

Ketiganya saling memandang dengan sikap ramah dan penuh keakraban. Meskipun memiliki status sosial yang berbeda, mereka dipersatukan dalam persaudaraan uang —dalam perkumpulan rahasia yang luas yang terdiri dari mereka yang memiliki harta, yang bisa membuat emas berdenting di mana pun mereka mau memasukkan tangan mereka ke dalam saku celana.

Kereta kuda itu berjalan sangat lambat sehingga sampai pukul sepuluh pagi belum menempuh jarak dua belas mil. Tiga kali para laki-laki dalam rombongan itu turun dan mendaki bukit dengan berjalan kaki. Para penumpang mulai gelisah, karena mereka berharap untuk bisa makan siang di Totes, dan sekarang tampaknya mereka hampir tidak akan sampai di sana sebelum malam tiba. Semua orang dengan penuh harap mencari penginapan di pinggir jalan, ketika, tiba-tiba, kereta kuda itu terperangkap di tumpukan salju, dan butuh dua jam untuk mengeluarkannya.

Seiring meningkatnya rasa lapar, semangat mereka menurun; tidak ada penginapan, tidak ada toko anggur yang bisa ditemukan, karena kedatangan pasukan Prusia dan lalu lalang pasukan Prancis yang kelaparan sudah menakut-nakuti semua usaha di daerah itu.

Para laki-laki mencari makanan di rumah-rumah pertanian di pinggir jalan, tapi tidak bisa menemukan sepotong roti pun; karena petani yang curiga selalu menyembunyikan persediaan mereka karena takut dijarah oleh para tentara, yang, karena sama sekali tidak memiliki makanan, akan mengambil alih secara paksa segala sesuatu yang mereka temukan.

Sekitar pukul satu siang, Loiseau mengumumkan bahwa perutnya benar-benar terasa kosong. Mereka semua menderita dengan cara yang sama selama beberapa waktu, dan rasa lapar yang semakin hebat sudah mengakhiri semua percakapan.

Sesekali seseorang menguap, yang lain mengikuti, dan masing-masing secara bergantian, sesuai dengan karakter, latar belakang, dan kedudukan sosialnya, menguap dengan tenang atau berisik, meletakkan tangannya di depan lubang menganga tempat keluarnya napas yang mengembun menjadi uap.

Beberapa kali Boule de Suif membungkuk, seolah mencari sesuatu di bawah roknya. Dia akan ragu sejenak, memandang orang di sebelahnya, lalu dengan tenang duduk tegak kembali. Semua wajah pucat dan lesu. Loiseau menyatakan dia akan memberikan seribu franc untuk sepotong daging ham. Istrinya membuat gerakan protes secara reflek dan cepat dihentikan. Istrinya selalu merasa sakit hati mendengar uang dihambur-hamburkan, dan dia bahkan tidak mengerti lelucon soal itu.

“Sebenarnya, saya merasa tidak enak,” kata sang count. “Mengapa saya tidak berpikir untuk membawa bekal ya?” Masing-masing mencela diri sendiri dengan cara yang sama.

Tapi, Cornudet memiliki sebotol rum, yang ditawarkannya kepada orang-orang. Mereka semua menolak dengan dingin kecuali Loiseau, yang menyesapnya, dan mengembalikan botol itu dengan ucapan terima kasih, sambil berkata, “Ini minuman yang enak; menghangatkan badan, dan menghilangkan rasa lapar.” Alkohol itu membuatnya bersemangat, dan dia mengusulkan agar mereka melakukan seperti yang dilakukan para pelaut dalam sebuah lagu: memakan penumpang yang paling gemuk. Sindiran tidak langsung terhadap Boule de Suif ini mengejutkan orang dalam rombongan yang terhormat itu. Tidak ada yang menjawab; hanya Cornudet yang tersenyum. Kedua biarawati yang baik itu sudah berhenti menggumamkan rosario mereka, dan, dengan tangan terlipat di lengan baju mereka yang lebar, duduk tanpa bergerak, mata mereka tertunduk teguh, tanpa ragu mempersembahkan penderitaan yang dikirimkan kepada mereka sebagai pengorbanan kepada Surga.

Akhirnya, pukul tiga, ketika mereka berada di tengah dataran yang tampaknya tidak terbatas, tanpa satu pun desa terlihat, Boule de Suif membungkuk dengan cepat, dan mengeluarkan dari bawah kursi sebuah keranjang besar yang ditutupi serbet putih.

Dari keranjang itu, pertama dia mengeluarkan sebuah piring tanah liat kecil dan sebuah cangkir minum perak, lalu sebuah piring besar berisi dua ekor ayam utuh yang dipotong-potong dan direndam dalam jeli. Keranjang itu terlihat berisi barang-barang bagus lainnya: pai, buah-buahan, makanan lezat berbagai macam —bekal, singkatnya, untuk perjalanan tiga hari, yang membuat pemiliknya tidak bergantung pada penginapan di pinggir jalan. Leher empat botol mencuat dari antara makanan. Dia mengambil sayap ayam, dan mulai memakannya dengan lahap, bersama dengan salah satu roti yang di Normandia disebut ‘Regence.’

Semua mata tertuju padanya. Aroma makanan memenuhi udara, menyebabkan lubang hidung membesar, mulut berair, dan rahang menegang kesakitan. Kebencian para perempuan lain terhadap perempuan yang tidak terhormat itu semakin ganas; mereka ingin membunuhnya, atau melemparkannya beserta cangkir minumnya, keranjangnya, dan bekalnya keluar dari kereta ke salju di jalan di bawah.

Tapi pandangan Loiseau tertuju dengan rakus pada hidangan ayam itu. Dia berkata, “Wah, wah, nyonya ini lebih berpandangan jauh ke depan daripada kita semua. Ada orang yang memang sudah memikirkan segalanya.”

Perempuan itu mendongak menatapnya.

“Apakah kau mau, Tuan? Pasti sulit menahan lapar sepanjang hari.”

Laki-laki itu membungkuk.

“Demi Tuhan, saya tidak bisa menolak; saya tidak sanggup bertahan semenit pun lagi. Segala cara diperbolehkan di masa perang, bukan begitu, Madame?”

Dan, sambil melirik orang-orang di sekitarnya, dia menambahkan, “Di saat-saat seperti ini, sangat menyenangkan bertemu dengan orang-orang yang ramah.”

Dia membentangkan koran di atas lututnya agar celananya tidak kotor, dan dengan pisau lipat yang selalu dibawanya, mengambil sepotong kaki ayam yang dilapisi jeli, lalu langsung melahapnya.

Kemudian Boule de Suif, dengan suara rendah dan rendah hati, mengundang para biarawati untuk ikut menikmati hidangannya. Mereka berdua menerima tawaran itu tanpa ragu-ragu, dan setelah beberapa kata terima kasih yang terbata-bata, mereka mulai makan dengan cepat, tanpa mengangkat mata. Cornudet pun tidak menolak tawarannya, dan, bersama para biarawati, mereka membentuk semacam meja dengan membentangkan koran di atas keempat pasang lutut.

Mulut-mulut terus membuka dan menutup, mengunyah dan melahap makanan dengan rakus. Loiseau, di sudutnya, bekerja keras, dan dengan suara rendah mendesak istrinya untuk mengikuti contohnya. Sang istri bertahan lama, tapi akhirnya menyerah karena kelelahan. Suaminya, dengan sikap paling sopan, bertanya kepada ‘teman yang menawan’ apakah dia diizinkan untuk menawarkan sedikit makanan kepada Madame Loiseau.

“Tentu saja, Tuan,” jawab Boule de Suif sambil tersenyum ramah, menyodorkan hidangan itu.

Ketika botol anggur merah pertama dibuka, sedikit rasa malu muncul karena hanya ada satu cangkir minum, tapi cangkir itu kemudian diedarkan dari satu orang ke orang lain setelah dilap. Cuma Cornudet saja, mungkin dengan semangat kesopanan, yang mengangkat bagian pinggiran cangkir yang masih basah oleh bekas bibir dari tetangganya yang cantik itu ke bibirnya sendiri.

Kemudian, dikelilingi oleh orang-orang yang sedang makan, dan hampir sesak napas karena aroma makanan, Comte dan Comtesse de Breville serta Monsieur dan Madame Carre-Lamadon menanggung bentuk penyiksaan yang menjijikkan yang mengabadikan nama Tantalus12. Tiba-tiba istri sang pengusaha yang masih muda menghela napas yang membuat semua orang menoleh dan memandanginya; dia pucat seperti salju; matanya tertutup, kepalanya tertunduk; dia pingsan. Suaminya, yang sangat panik, memohon bantuan teman-teman seperjalanannya. Tidak seorang pun yang tampaknya tahu apa yang harus dilakukan sampai biarawati yang lebih tua, mengangkat kepala pasien, meletakkan cangkir minum Boule de Suif ke bibirnya, dan membuatnya menelan beberapa tetes anggur. Perempuan sakit yang cantik itu bergerak, membuka matanya, tersenyum, dan menyatakan dengan suara lemah bahwa dia baik-baik saja lagi. Tapi, untuk mencegah terulangnya bencana itu, biarawati itu menyuruhnya minum secangkir anggur merah, sambil menambahkan, “Ini cuma lapar —itulah yang terjadi pada Anda.”

Kemudian Boule de Suif, dengan wajah memerah dan malu, tergagap-gagap, sambil memandang keempat penumpang yang masih menahan lapar, “Mon Dieu13, bolehkah aku menawarkan kepada Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya sekalian——”

Dia berhenti sejenak, karena takut dilecehkan.

Tapi Loiseau langsung melanjutkan, “Astaga, dalam masalah seperti ini kita semua bersaudara dan seharusnya saling membantu. Ayo, ayo, para perempuan, jangan terlalu formal, demi Tuhan! Apakah kita tahu apakah kita akan menemukan rumah untuk bermalam? Dengan kecepatan kita sekarang, kita tidak akan sampai di Totes sampai tengah hari besok.”

Mereka ragu-ragu, tidak seorang pun berani menjadi yang pertama menerima. Tapi sang count memutuskan masalah itu. Dia menoleh ke arah perempuan yang malu-malu itu, dan dengan caranya yang paling terhormat berkata, “Dengan senang hati kami menerimanya, Madame.”

Seperti biasa, hanya langkah pertama yang terasa berat. Setelah menyeberangi Sungai Rubicon14, mereka mulai makan dengan penuh semangat. Keranjang itu langsung dikosongkan. Di dalamnya masih terdapat pate de foie gras15, pai burung lark, sepotong lidah asap, pir Crassane, kue jahe Pont-Leveque, kue-kue mewah, dan secangkir penuh acar mentimun dan bawang —Boule de Suif, seperti kebanyakan perempuan, sangat menyukai makanan-makanan yang sulit dicerna.

Mereka tidak bisa memakan bekal perempuan itu tanpa berbicara dengannya. Jadi mereka mulai berbicara, awalnya kaku; kemudian, karena perempuan itu tampaknya tidak terlalu agresif, mereka mulai berbicara dengan lebih bebas. Mesdames16 de Breville dan Carre-Lamadon, yang merupakan perempuan-perempuan berpengalaman, bersikap ramah dan bijaksana. Sang countess khususnya menunjukkan sikap ramah dan rendah hati khas perempuan bangsawan yang tidak bisa dinodai hanya dengan bergaul dengan orang biasa, dan benar-benar menawan. Tapi Madame Loiseau yang tegap, yang memiliki jiwa seorang polisi, tetap muram, sedikit bicara dan banyak makan.

Percakapan secara alami beralih ke soal perang. Kisah-kisah mengerikan diceritakan tentang Prusia, tindakan-tindakan keberanian orang Prancis dikisahkan; dan semua orang yang sedang melarikan diri ini siap untuk memberikan penghormatan kepada keberanian rekan senegaranya. Pengalaman pribadi kemudian juga dibicarakan, dan Boule le Suif menceritakan dengan emosi yang tulus, dan dengan kehangatan bahasa yang tidak jarang ditemukan pada perempuan dari kelas dan sifatnya, bagaimana dia akhirnya meninggalkan Rouen.

“Awalnya kupikir aku bisa tinggal,” katanya. “Rumahku penuh dengan persediaan makanan, dan rasanya lebih baik memberi makan beberapa tentara daripada mengasingkan diri entah ke mana. Tapi ketika aku melihat orang-orang Prusia itu, aku tidak sanggup menahan amarahku! Darahku mendidih karena marah; aku menangis sepanjang hari karena sangat malu. Oh, seandainya saja aku laki-laki! Aku melihat mereka dari jendela —babi-babi gemuk itu, dengan helm runcing mereka! —dan pelayanku memegang tanganku agar aku tidak melemparkan perabotanku ke arah mereka. Kemudian beberapa dari mereka mengeroyokku; aku langsung menyerang orang pertama yang masuk. Mereka sama mudahnya dicekik seperti laki-laki lain! Dan aku pasti sudah mati kalau rambutku tidak ditarik untuk menjauh darinya. Setelah itu aku harus bersembunyi. Dan begitu aku mendapat kesempatan, aku meninggalkan tempat itu, dan di sinilah aku sekarang.”

Dia mendapat sambutan hangat dan ucapan selamat. Dia semakin dihormati oleh teman-teman seperjalanannya, yang tidak seberani dirinya; dan Cornudet mendengarkannya dengan senyum persetujuan dan kebaikan hati seorang rasul, senyum yang mungkin dikenakan seorang pendeta saat mendengarkan seorang umat yang memuji Tuhan; karena para demokrat berjanggut panjang seperti dirinya memiliki monopoli patriotisme, sama seperti para pendeta memiliki monopoli agama. Dia pun berpidato dengan penuh keyakinan dogmatis, dengan gaya pamflet-pamflet yang setiap hari ditempel di dinding kota, diakhiri dengan semacam pidato jalanan di mana dia mencaci maki ‘si bodoh Louis-Napoleon17 yang sudah tumpul otaknya.’

Tapi Boule de Suif merasa marah, karena dia adalah seorang pendukung Bonapartis yang fanatik. Wajahnya memerah seperti buah ceri, dan dia tergagap-gagap dalam kemarahannya, “Aku ingin melihatmu berada di tempatnya —kau dan orang-orang sepertimu! Pasti akan terjadi kekacauan besar. Oh, ya! Kalianlah yang mengkhianati orang itu. Mustahil untuk hidup di Prancis kalau kita diperintah oleh bajingan seperti kalian!”

Cornudet, yang tidak terpengaruh oleh hinaan itu, masih tersenyum angkuh dan meremehkan; dan orang merasa bahwa kata-kata kasar akan segera keluar, ketika sang count ikut campur, dan, dengan susah payah, berhasil menenangkan perempuan yang marah itu, dengan mengatakan bahwa semua pendapat yang tulus harus dihormati. Tapi sang countess dan istri pengusaha itu, yang dipenuhi dengan kebencian yang tidak beralasan dari kelas atas terhadap Republik, dan terlebih lagi, naluri kasih sayang yang dirasakan oleh semua perempuan terhadap kemegahan dan keadaan pemerintahan yang despotik18, tertarik, tanpa mereka sadari, kepada perempuan muda yang bermartabat ini, yang pendapatnya sangat selaras dengan pendapat mereka sendiri.

Keranjang itu kosong. Kesepuluh orang itu sudah menghabiskan isinya tanpa kesulitan, diiringi penyesalan karena isinya tidak cukup untuk lebih banyak makanan. Percakapan berlanjut sedikit lebih lama, meskipun agak meredup setelah para penumpang selesai makan.

Malam tiba, kegelapan semakin pekat, dan hawa dingin membuat Boule de Suif menggigil, meskipun tubuhnya agak gemuk. Maka Madame de Breville menawarkan penghangat kakinya, yang bahan bakarnya sudah beberapa kali diganti sejak pagi, dan dia langsung menerima tawaran itu, karena kakinya sangat dingin. Mesdames Carre-Lamadon dan Loiseau memberikan penghangat kaki mereka kepada para biarawati.

Kusir menyalakan lentera. Lentera-lentera itu memancarkan cahaya terang pada awan uap yang melayang di atas sisi-sisi kuda yang berkeringat, dan pada salju di pinggir jalan, yang terlihat terbentang saat mereka melaju di bawah cahaya lentera yang berubah-ubah.

Semuanya sekarang tidak bisa dibedakan lagi di dalam kereta; tapi tiba-tiba terjadi gerakan di sudut yang ditempati oleh Boule de Suif dan Cornudet; dan Loiseau, mengintip ke dalam kegelapan, membayangkan dia melihat si demokrat berjanggut besar itu bergerak tergesa-gesa ke satu sisi, seolah-olah dia baru menerima pukulan yang tepat sasaran, meskipun tanpa suara, dalam kegelapan.

Cahaya-cahaya kecil berkelap-kelip di depan. Itu adalah Totes. Kereta kuda itu sudah menempuh perjalanan selama sebelas jam, yang kalau ditambah tiga jam yang diberikan kepada kuda-kuda itu dalam empat periode untuk makan dan bernapas, menjadi empat belas jam. Kereta itu memasuki kota, dan berhenti di depan Hotel du Commerce.

***

Pintu kereta terbuka; suara yang sudah dikenal membuat semua penumpang tersentak; itu adalah bunyi dentingan sarung pedang di trotoar; lalu sebuah suara meneriakkan sesuatu dalam bahasa Jerman.

Meskipun kereta sudah berhenti total, tidak ada seorang pun yang keluar; seolah-olah mereka takut dibunuh begitu meninggalkan tempat duduk mereka. Kemudian sang kusir muncul, memegang salah satu lentera di tangannya, yang tiba-tiba memancarkan cahaya ke dalam kereta, menerangi deretan wajah-wajah yang terkejut, mulut-mulut yang ternganga, dan mata-mata yang terbuka lebar karena terkejut dan ketakutan.

Di samping sang kusir, berdiri di bawah cahaya terang, seorang perwira Jerman, seorang laki-laki muda tinggi, berkulit cerah dan ramping, terbungkus rapat dalam seragamnya seperti seorang perempuan dalam korsetnya, topi datarnya yang mengkilap, miring ke satu sisi kepalanya, membuatnya terlihat seperti pelayan hotel Inggris. Kumisnya yang berlebihan, panjang dan lurus dan meruncing di kedua ujungnya dengan sehelai rambut pirang yang hampir tidak terlihat, terlihat memberatkan sudut mulutnya dan membuat bibirnya terlihat terkulai.

Dalam bahasa Prancis Alsace19, dia meminta para pelancong untuk turun, sambil berkata dengan kaku, “Silakan turun, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya.”

Kedua biarawati itu adalah yang pertama menurut, menunjukkan kepatuhan para perempuan suci yang terbiasa tunduk dalam setiap kesempatan. Selanjutnya muncul sang count dan countess, diikuti oleh sang pengusaha dan istrinya, setelah itu Loiseau, mendorong istrinya yang lebih besar dan lebih berat untuk turun lebih dulu.

“Selamat siang, Tuan,” katanya kepada petugas itu sambil menghentakkan kakinya ke tanah, bertindak berdasarkan dorongan kehati-hatian daripada kesopanan. Perwira itu, angkuh seperti semua orang yang berwenang, hanya menatap tanpa menjawab.

Boule de Suif dan Cornudet, meskipun berada di dekat pintu, adalah yang terakhir turun, terlihat serius dan bermartabat di hadapan musuh. Perempuan bertubuh gemuk itu berusaha mengendalikan diri dan terlihat tenang; sang demokrat mengelus janggutnya yang panjang berwarna cokelat kemerahan dengan tangan yang agak gemetar. Keduanya berusaha mempertahankan martabat mereka, karena tahu betul bahwa pada saat seperti itu setiap individu selalu dipandang sebagai representasi yang kurang lebih mewakili bangsanya; dan, juga, karena kesal dengan sikap ramah rekan-rekan mereka, Boule de Suif mencoba menunjukkan sikap yang lebih berani daripada teman-teman seperjalanannya, para perempuan yang berbudi luhur, sementara Cornudet, merasa bahwa adalah kewajibannya untuk memberi contoh yang baik, mempertahankan sikap perlawanan yang pertama kali ditunjukkannya ketika dia mulai memasang ranjau di jalan-jalan utama di sekitar Rouen.

Mereka memasuki dapur penginapan yang luas, dan orang Jerman itu, setelah meminta paspor yang ditandatangani oleh jenderal yang bertanggung jawab, yang di dalamnya tercantum nama, deskripsi, dan profesi setiap pelancong, memeriksa mereka semua dengan saksama, membandingkan penampilan mereka dengan data yang tertulis.

Lalu dia berkata dengan kasar, "Baiklah," dan berbalik.

Mereka bernapas lega, semuanya masih lapar; jadi makan malam dipesan. Setengah jam dibutuhkan untuk persiapannya, dan sementara dua pelayan sibuk menyiapkannya, para pelancong pergi untuk melihat kamar mereka. Semua kamar itu menghadap ke koridor panjang, di ujungnya terdapat pintu kaca dengan nomor di atasnya.

Mereka baru saja akan duduk di meja ketika pemilik penginapan muncul. Dia adalah mantan pedagang kuda —bertubuh besar, mengidap asma, selalu mengi, batuk, dan berdeham. Follenvie adalah nama keluarganya.

Dia memanggil, “Mademoiselle20 Elisabeth Rousset?”

Boule de Suif mulai bergerak, lalu berbalik. “Itu nama saya.”

“Nona, perwira Prusia itu ingin berbicara dengan Anda segera.”

“Dengan saya?”

“Ya; kalau Anda adalah Mademoiselle Elisabeth Rousset.”

Dia ragu-ragu, berpikir sejenak, lalu berkata dengan tegas, “Mungkin saja; tapi saya tidak akan pergi.”

Mereka bergerak gelisah di sekelilingnya; setiap orang bertanya-tanya dan berspekulasi tentang penyebab perintah ini.

Sang count mendekat, “Anda salah, Madame, karena penolakan Anda bisa menimbulkan masalah bukan hanya bagi Anda sendiri tapi juga bagi semua teman Anda. Menentang orang yang berwenang tidak pernah menguntungkan. Kepatuhan Anda terhadap permintaan ini sama sekali tidak mungkin menimbulkan bahaya; mungkin hal itu dilakukan karena ada formalitas tertentu yang terlupakan.”

Semua orang ikut menyuarakan pendapat mereka bersama sang bangsawan; Boule de Suif dibujuk, didesak, diberi ceramah, dan akhirnya diyakinkan; setiap orang takut akan komplikasi yang mungkin timbul akibat tindakan gegabahnya.

Akhirnya dia berkata, “Saya melakukan ini demi Anda semua, ingat itu!”

Sang countess menggenggam tangannya. “Dan kami berterima kasih kepada Anda.”

Dia meninggalkan ruangan. Semua menunggu dia kembali sebelum mulai makan. Masing-masing merasa sedih karena mereka tidak dipanggil, alih-alih perempuan impulsif dan mudah marah itu, dan masing-masing mempersiapkan kata-kata klise dalam hati kalau-kalau dipanggil juga.

Tapi setelah sepuluh menit, dia muncul kembali dengan napas terengah-engah, wajahnya merah padam karena marah.

“Oh! Bajingan! Bajingan!” dia tergagap.

Semua orang ingin tahu apa yang terjadi; tapi dia menolak untuk memberi tahu mereka, dan ketika sang count mendesak, dia membungkamnya dengan penuh martabat, sambil berkata, “Tidak; masalah ini tidak ada hubungannya dengan Anda, dan saya tidak bisa mengatakannya.”

Kemudian mereka duduk mengelilingi sebuah mangkuk sup yang besar, yang darinya tercium aroma kubis. Terlepas dari semua kejadian, makan malam itu tetap meriah. Sari apelnya enak; keluarga Loiseau dan para biarawati meminumnya karena alasan penghematan. Yang lain memesan anggur; Cornudet meminta bir. Dia punya cara sendiri membuka botol dan membuat bir berbusa, menatapnya sambil memiringkan gelasnya, lalu mengangkatnya ke posisi antara lampu dan matanya agar dia bisa menilai warnanya. Saat minum, janggutnya yang lebat, yang warnanya sama dengan minuman favoritnya itu, terlihat bergetar penuh kasih; matanya benar-benar menyipit dalam upaya untuk tidak kehilangan pandangan dari gelas kesayangannya, dan dia terlihat seolah-olah sedang memenuhi satu-satunya fungsi yang ditakdirkan untuknya. Dia tampaknya sudah menetapkan dalam pikirannya sebuah keterkaitan antara dua hasrat besar dalam hidupnya —bir pucat dan revolusi— dan tentu saja dia tidak bisa mencicipi yang satu tanpa memimpikan yang lain.

Monsieur dan Madame Follenvie makan malam di ujung meja. Sang suami, terengah-engah seperti lokomotif rusak, terlalu sesak napas untuk berbicara saat makan. Tapi sang istri tidak bisa diam sedetik pun; dia menceritakan bagaimana orang-orang Prusia membuatnya terkesan saat kedatangan mereka, apa yang mereka lakukan, apa yang mereka katakan; mengutuk mereka terutama karena mereka merugikannya secara finansial, dan kedua karena dia memiliki dua anak laki-laki di angkatan darat. Dia terutama berbicara kepada sang countess, merasa tersanjung atas kesempatan untuk berbicara dengan seorang countess.

Kemudian dia merendahkan suaranya, dan mulai membahas topik-topik sensitif. Suaminya sesekali menyela, berkata, “Sebaiknya Anda berhenti bicara, Madame Follenvie.”

Tapi dia mengabaikannya, dan melanjutkan, “Ya, Madame, orang-orang Jerman ini tidak melakukan apa pun selain makan kentang dan babi, lalu babi dan kentang lagi. Dan jangan pernah berpikir sejenak pun bahwa mereka bersih! Tidak, sama sekali tidak! Dan seandainya Anda melihat mereka berlatih berjam-jam, bahkan berhari-hari, bersama-sama; mereka semua berkumpul di lapangan, lalu mereka tidak melakukan apa pun selain berbaris maju mundur, dan berputar ke sana kemari. Seandainya saja mereka mau mengolah tanah, atau tinggal di rumah dan mengerjakan jalan raya mereka! Sungguh, Madame, tentara-tentara ini tidak berguna sama sekali! Orang-orang miskin harus memberi makan dan memelihara mereka, hanya agar mereka bisa belajar cara membunuh! Memang benar, saya hanyalah seorang perempuan tua tanpa pendidikan, tapi ketika saya melihat mereka kelelahan berbaris dari pagi hingga malam, saya berkata pada diri sendiri: ketika ada orang-orang yang membuat penemuan yang berguna bagi orang lain, mengapa orang lain harus bersusah payah melakukan kejahatan? Sungguh, bukankah membunuh orang itu hal yang mengerikan, baik mereka Prusia, atau Inggris, atau Polandia, atau Prancis? Kalau kita membalas dendam pada siapa pun yang menyakiti kita, kita melakukan kesalahan, dan dihukum karenanya; tapi ketika anak-anak kita ditembak mati seperti burung puyuh, itu tidak apa-apa, dan penghargaan diberikan kepada orang yang membunuh paling banyak. Tidak, sungguh, aku tidak akan pernah bisa memahaminya.”

Cornudet meninggikan suaranya, “Perang adalah tindakan biadab ketika kita menyerang tetangga yang damai, tapi merupakan kewajiban suci ketika dilakukan untuk membela negara.”

Perempuan tua itu menunduk, “Ya; memang berbeda ceritanya kalau seseorang bertindak untuk membela diri; tapi bukankah lebih baik membunuh semua raja, karena mereka berperang hanya untuk bersenang-senang?”

Mata Cornudet berbinar. “Bravo, hidup rakyat!” katanya.

Monsieur Carre-Lamadon sedang merenung dalam-dalam. Meskipun seorang pengagum berat para jenderal besar, akal sehat perempuan desa itu membuatnya merenungkan kekayaan yang mungkin diperoleh suatu negara dengan mempekerjakan begitu banyak tangan yang sekarang menganggur dan dipelihara dengan biaya besar, begitu banyak tenaga kerja yang tidak produktif, kalau mereka dipekerjakan dalam usaha-usaha industri besar yang akan membutuhkan waktu berabad-abad untuk diselesaikan.

Tapi Loiseau, meninggalkan tempat duduknya, menghampiri pemilik penginapan dan mulai mengobrol dengan suara rendah. Laki-laki besar itu terkekeh, batuk, tersedak; tubuhnya yang besar bergetar karena geli mendengar lelucon lawan biacaranya; dan akhirnya dia membeli enam tong anggur merah dari Loiseau untuk dikirim pada musim semi, setelah orang-orang Prusia pergi.

Begitu makan malam usai, semua orang langsung tidur, kelelahan karena perjalanan.

Tapi Loiseau, yang sudah melakukan pengamatan secara diam-diam, menyuruh istrinya tidur, dan menghibur dirinya sendiri dengan menempelkan telinganya terlebih dahulu, lalu matanya, ke lubang kunci kamar tidur, untuk menemukan apa yang disebutnya ‘misteri koridor.’

Setelah sekitar satu jam, dia mendengar suara gemerisik, mengintip keluar dengan cepat, dan melihat Boule de Suif, terlihat lebih gemuk dari sebelumnya mengenakan gaun tidur kasmir biru berhiaskan renda putih. Dia memegang lilin di tangannya, dan berjalan menuju pintu bernomor di ujung koridor. Tapi salah satu pintu samping sedikit terbuka, dan ketika beberapa menit kemudian dia kembali, Cornudet, dengan hanya mengenakan kemeja lengan pendek, mengikutinya. Mereka berbicara dengan suara rendah, lalu tiba-tiba berhenti. Boule de Suif tampaknya dengan tegas menolak mengizinkannya masuk ke kamarnya. Sayangnya, Loiseau awalnya tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan; tapi menjelang akhir percakapan mereka meninggikan suara, dan dia menangkap beberapa kata. Cornudet bersikeras dengan suara keras.

“Betapa bodohnya Anda! Apa ruginya bagi Anda?” katanya.

Perempuan itu terlihat marah, dan menjawab, “Tidak, Tuan, ada kalanya orang tidak melakukan hal semacam itu; lagipula, di tempat ini hal itu akan memalukan.”

Rupanya dia tidak mengerti, dan menanyakan alasannya. Kemudian perempuan itu kehilangan kesabaran dan kehati-hatiannya, dan, dengan suara yang lebih tinggi lagi, berkata, “Kenapa? Apa Anda tidak mengerti kenapa? Karena ada orang Prusia di rumah ini! Bahkan mungkin di ruangan sebelah!”

Laki-laki itu terdiam. Rasa malu patriotik dari perempuan jalang itu, yang tidak mau dibelai di dekat musuh, pasti sudah membangkitkan harga dirinya yang terpendam, karena setelah memberinya ciuman sederhana, dia dengan lembut kembali ke kamarnya. Loiseau, yang merasa sangat terhibur, berjingkrak-jingkrak di kamarnya sebelum mengambil tempatnya di samping istrinya yang sedang tidur.

Kemudian keheningan menyelimuti seluruh rumah. Tapi segera terdengar dari suatu bagian yang terpencil —bisa jadi ruang bawah tanah atau loteng— dengkuran yang berat, monoton, dan teratur, gemuruh yang membosankan dan berkepanjangan, diselingi getaran seperti ketel uap bertekanan. Monsieur Follenvie sudah tertidur.

***

Karena mereka sudah memutuskan untuk berangkat pukul delapan pagi keesokan harinya, semua orang berada di dapur pada jam itu; tapi kereta kuda, dengan atapnya yang tertutup salju, berdiri sendirian di tengah halaman, tanpa kuda maupun kusir. Mereka mencari sang kusir di kandang kuda, garasi kereta, dan lumbung —tapi sia-sia. Maka para laki-laki dalam rombongan itu memutuskan untuk menjelajahi daerah tersebut untuk mencarinya, dan berangkat. Mereka mendapati diri mereka berada di alun-alun, dengan gereja di sisi terjauh, dan di kanan dan kiri terdapat rumah-rumah beratap rendah tempat beberapa tentara Prusia berada. Tentara pertama yang mereka lihat sedang mengupas kentang. Yang kedua, lebih jauh lagi, sedang membersihkan toko tukang cukur. Yang lain, berjanggut lebat, sedang membelai bayi yang menangis, dan menggendongnya di pangkuannya untuk menenangkannya; dan para perempuan desa yang bertubuh tegap, yang sebagian besar suaminya sedang berperang, dengan isyarat memberi tahu para penakluk mereka yang patuh pekerjaan apa yang harus mereka lakukan: menebang kayu, menyiapkan sup, menggiling kopi; salah satu dari mereka bahkan mencuci pakaian untuk nyonya rumahnya, seorang nenek tua yang sakit-sakitan.

Sang bangsawan, yang takjub dengan apa yang dilihatnya, menanyai petugas gereja yang keluar dari pastoran. Orang tua itu menjawab, “Oh, orang-orang itu sama sekali bukan orang jahat; mereka bukan orang Prusia, kata orang; mereka berasal dari tempat yang lebih jauh, saya tidak tahu persisnya di mana. Dan mereka semua meninggalkan istri dan anak-anak mereka; mereka juga tidak menyukai perang, saya yakin! Saya yakin mereka berduka atas orang-orang di tempat asal mereka, sama seperti kita di sini; dan perang menyebabkan mereka sama tidak bahagianya seperti kita. Bahkan, keadaan di sini tidak begitu buruk sekarang, karena para tentara tidak berbuat jahat, dan bekerja seolah-olah mereka berada di rumah mereka sendiri. Anda lihat, Tuan, orang miskin selalu saling membantu; orang-orang besar di dunia inilah yang membuat perang.”

Cornudet yang merasa geram atas hubungan bersahabat yang terjalin antara penakluk dan yang ditaklukkan, mundur dan memilih untuk mengurung diri di penginapan.

“Mereka sedang mengisi kembali populasi negara ini,” canda Loiseau.

“Mereka sedang memperbaiki kerusakan yang sudah mereka lakukan,” kata Monsieur Carre-Lamadon dengan serius.

Tapi mereka tidak bisa menemukan kusir kereta kuda mereka. Akhirnya dia ditemukan di kafe desa, sedang bercengkerama ramah dengan ajudan sang perwira.

“Bukankah Anda sudah diperintahkan untuk memasang tali kekang pada kuda-kuda itu pukul delapan?” tanya sang count.

“Oh, ya; tapi saya sudah menerima perintah yang berbeda.”

“Perintah apa?”

“Untuk tidak memasang tali kekang pada kuda sama sekali.”

“Siapa yang memberi Anda perintah seperti itu?”

“Si perwira Prusia.”

"Tapi kenapa?"

“Saya tidak tahu. Pergi dan tanyakan kepadanya. Saya dilarang memasang tali kekang pada kuda, jadi saya tidak memasang tali kekang pada kuda-kuda itu —itu saja.”

“Apakah dia sendiri yang memerintahkan Anda?”

“Tidak, Tuan; pemilik penginapan yang memberi saya perintah itu darinya.”

"Kapan?"

“Tadi malam, tepat saat saya hendak tidur.”

Ketiga laki-laki itu kembali dengan perasaan yang sangat gelisah.

Mereka menanyakan Monsieur Follenvie, tapi pelayan menjawab bahwa karena penyakit asmanya, dia tidak pernah bangun sebelum pukul sepuluh. Mereka dilarang keras membangunkannya lebih awal, kecuali kalau terjadi kebakaran.

Mereka ingin bertemu dengan sang perwira, tapi itu juga tidak mungkin, meskipun dia menginap di penginapan tersebut. Hanya Monsieur Follenvie yang berwenang untuk menemuinya dalam urusan sipil. Jadi mereka menunggu. Para perempuan kembali ke kamar mereka, dan menyibukkan diri dengan hal-hal sepele.

Cornudet duduk di samping perapian dapur yang tinggi, di depan api yang menyala-nyala. Di sampingnya ada meja kecil dan kendi bir, dan dia menghisap pipanya —pipa yang di kalangan demokrat dianggap hampir setara dengan Cornudet sendiri, seolah-olah pipa itu sudah mengabdi kepada negaranya dengan melayani Cornudet. Pipa itu terbuat dari meerschaum21 yang bagus, warnanya hitam pekat seperti warna gigi pemiliknya, tapi beraroma harum, melengkung anggun, terasa nyaman di tangan pemiliknya, dan melengkapi raut wajahnya. Dan Cornudet duduk tanpa bergerak, matanya tertuju pada nyala api yang menari-nari, lalu pada buih yang menghiasi birnya; dan setelah setiap tegukan, dengan ekspresi puas dia mengusap rambutnya yang panjang dan berminyak, sambil menghisap busa dari kumisnya.

Loiseau, dengan dalih meregangkan kaki, keluar untuk melihat apakah dia bisa menjual anggur kepada para pedagang desa. Sang count dan sang pedagang mulai membicarakan politik. Mereka meramalkan masa depan Prancis. Yang satu percaya pada dinasti Orleans22, yang lain pada seorang penyelamat yang tidak dikenal —seorang pahlawan yang akan muncul di saat-saat terakhir: seorang DuGuesclin23, mungkin seorang Joan of Arc24? atau NapoleonI25 yang lain? Ah! seandainya saja Pangeran Imperial26 tidak begitu muda! Cornudet, mendengarkan mereka, tersenyum seperti orang yang memegang kunci takdir di tangannya. Aroma pipanya memenuhi seluruh dapur.

Saat jam menunjukkan pukul sepuluh, Monsieur Follenvie muncul. Dia segera dikelilingi dan diinterogasi, tapi cuma bisa mengulangi, tiga atau empat kali berturut-turut, dan tanpa variasi, kata-kata, “Perwira itu berkata kepada saya, persis seperti ini: 'Tuan Follenvie, Anda harus melarang mereka memasang tali kekang pada kereta untuk para pelancong besok. Mereka tidak boleh berangkat tanpa perintah dari saya. Anda mengerti? Itu saja.'"

Kemudian mereka meminta untuk bertemu dengan perwira itu. Sang count mengirimkan kartu namanya, di mana Monsieur Carre-Lamadon juga menuliskan nama dan gelarnya. Orang Prusia itu mengirim pesan bahwa kedua laki-laki itu diizinkan menemuinya setelah makan siang —sekitar pukul satu siang.

Para perempuan muncul kembali, dan mereka semua makan sedikit, meskipun merasa cemas. Boule de Suif terlihat sakit dan sangat khawatir.

Mereka sedang menghabiskan kopi mereka ketika petugas datang untuk memanggil para laki-laki.

Loiseau bergabung dengan dua orang lainnya; tapi ketika mereka mencoba mengajak Cornudet untuk ikut serta, dengan tujuan menambah keseriusan acara tersebut, dia dengan bangga menyatakan bahwa dia tidak akan pernah berurusan dengan orang Jerman, dan, kembali duduk di sudut perapian, dia meminta sebotol bir lagi.

Ketiga laki-laki itu naik ke lantai atas, dan diantar ke kamar terbaik di penginapan, tempat sang perwira menerima mereka sambil bersantai di kursi berlengan, kakinya di atas perapian, menghisap pipa porselen panjang, dan diselimuti jubah tidur mewah, yang tidak diragukan lagi dicuri dari rumah kosong seorang warga yang tidak memiliki selera berpakaian. Dia tidak berdiri, menyapa mereka, atau bahkan melirik ke arah mereka. Dia memberikan contoh yang bagus dari sikap angkuh yang tampaknya wajar bagi seorang prajurit yang menang.

Setelah beberapa saat berlalu, dia berkata dalam bahasa Prancisnya yang terbata-bata, “Kalian mau apa?”

“Kami ingin meneruskan perjalanan kami,” kata sang count.

"Tidak."

“Bolehkah saya menanyakan alasan penolakan Anda?”

“Karena saya tidak mengijinkannya.”

“Dengan hormat, saya ingin menyampaikan kepada Anda, Monsieur, bahwa jenderal yang bertanggungjawab sudah memberi kami izin untuk melanjutkan perjalanan ke Dieppe; dan saya rasa kami tidak melakukan apa pun yang pantas mendapatkan perlakuan kasar dari Anda.”

“Saya tidak mengijinkannya —itu saja. Kalian boleh pergi.”

Mereka membungkuk, lalu pergi.

***

Sore itu terasa menyedihkan. Mereka tidak mengerti tingkah laku orang Jerman itu yang seenaknya, dan berbagai pikiran aneh muncul di kepala mereka. Mereka semua berkumpul di dapur, dan membicarakan masalah itu sampai tuntas, membayangkan segala macam kemungkinan yang tidak masuk akal. Mungkin mereka akan ditahan sebagai sandera —tapi untuk alasan apa? atau diekstradisi sebagai tawanan perang? atau mungkin mereka akan ditahan untuk tebusan? Mereka panik mendengar dugaan terakhir ini. Yang terkaya di antara mereka adalah yang paling khawatir, membayangkan diri mereka dipaksa untuk mengosongkan kantong emas ke tangan tentara yang angkuh itu untuk menebus nyawa mereka. Mereka memeras otak untuk mencari kebohongan yang masuk akal agar bisa menyembunyikan fakta bahwa mereka kaya, dan berpura-pura miskin —sangat miskin. Loiseau melepas rantai jam tangannya, dan memasukkannya ke dalam sakunya. Menjelang malam, kecemasan mereka semakin meningkat. Lampu dinyalakan, dan karena masih dua jam lagi sebelum makan malam, Madame Loiseau mengusulkan permainan trente et un27. Itu akan mengalihkan pikiran mereka. Yang lain setuju, dan Cornudet juga bergabung dengan pesta tersebut, pertama-tama dia mematikan pipanya demi kesopanan.

Sang count mengocok kartu —membagikannya— dan Boule de Suif memiliki kartu berjmulah tiga puluh satu ketika permainan baru dimulai; tidak lama kemudian, ketertarikan pada permainan meredakan kecemasan para pemain. Tapi Cornudet menyadari bahwa Loiseau dan istrinya bersekongkol untuk berbuat curang.

Mereka hendak duduk untuk makan malam ketika Monsieur Follenvie muncul, dan dengan suara seraknya mengumumkan, “Perwira Prusia itu mengirim utusan untuk menanyakan kepada Mademoiselle Elisabeth Rousset apakah dia sudah berubah pikiran.”

Boule de Suif berdiri diam, pucat pasi. Kemudian, tiba-tiba wajahnya memerah karena marah, dia terengah-engah berkata, “Tolong sampaikan pada bajingan itu, anjing itu, bangkai Prusia itu, bahwa aku tidak akan pernah mau —kau mengerti? —tidak akan pernah, tidak akan pernah, tidak akan pernah!”

Pemilik penginapan yang gemuk itu meninggalkan ruangan. Kemudian Boule de Suif dikelilingi, diinterogasi, dan dibujuk dari segala sisi untuk mengungkapkan rahasia ketika dia dipanggil perwira itu. Awalnya dia menolak; tapi amarahnya segera menguasai dirinya.

“Apa yang dia inginkan? Dia ingin menjadikan aku gundiknya!” serunya.

Tidak seorang pun terkejut mendengar kata itu, karena kemarahan semua orang begitu besar. Cornudet memecahkan kendi birnya saat dia membantingnya ke meja. Teriakan keras terdengar menentang prajurit rendahan itu. Semua orang marah. Mereka bersatu dalam perlawanan bersama melawan musuh, seolah-olah sebagian dari pengorbanan yang dituntut dari Boule de Suif dituntut dari mereka semua. Sang count menyatakan, dengan rasa jijik yang luar biasa, bahwa orang-orang itu berperilaku seperti orang barbar di masa lalu. Para perempuan, di atas segalanya, menunjukkan simpati yang tulus dan lembut kepada Boule de Suif. Para biarawati, yang hanya muncul saat makan, menundukkan mata mereka, dan tidak mengatakan apa-apa.

Bagaimanapun, mereka makan malam segera setelah ledakan kemarahan pertama mereda; dan mereka sedikit bicara tapi banyak berpikir.

Para perempuan tidur lebih awal; dan para laki-laki, setelah menyalakan pipa mereka, mengusulkan permainan ecarte28, di mana Monsieur Follenvie diundang untuk bergabung, para pelancong berharap bisa menanyainya dengan terampil tentang cara terbaik untuk mengalahkan kekeraskepalaan sang perwira. Tapi dia tidak memikirkan apa pun selain kartunya, tidak mau mendengarkan apa pun, tidak menjawab apa pun, dan berulang kali berkata, “Perhatikan permainannya, Tuan-tuan! Perhatikan permainannya!” Begitu terhanyutnya perhatiannya sehingga dia bahkan lupa untuk meludah. Akibatnya, dadanya mengeluarkan suara gemuruh seperti organ. Paru-parunya yang sesak mengeluarkan setiap nada dari skala asma, dari nada yang dalam dan hampa hingga suara serak dan melengking menyerupai suara ayam jantan muda yang mencoba berkokok.

Dia menolak untuk tidur ketika istrinya, yang sangat mengantuk, datang untuk menjemputnya. Jadi istrinya pergi sendiri, karena dia adalah orang yang bangun pagi, selalu bangun bersama matahari; sementara suaminya terbiasa begadang, selalu siap menghabiskan malam bersama teman-teman. Dia cuma berkata, "Letakkan minuman eggnogg29-ku di dekat perapian," dan melanjutkan permainannya. Ketika orang-orang lain melihat bahwa tidak ada yang bisa didapatkan darinya, mereka menyatakan sudah waktunya untuk beristirahat, dan masing-masing mencari tempat tidurnya.

***

Mereka bangun cukup pagi keesokan harinya, dengan harapan tipis untuk diizinkan berangkat, keinginan yang lebih besar dari sebelumnya untuk melakukannya, dan rasa takut harus menghabiskan satu hari lagi di penginapan kecil yang menyedihkan ini.

Sayang sekali! Kuda-kuda tetap berada di kandang, kusirnya tidak terlihat. Mereka menghabiskan waktu, karena tidak ada hal lain yang lebih baik untuk dilakukan, dengan berkeliaran di sekitar kereta.

Makan siang berlangsung suram; dan ada sikap dingin secara umum terhadap Boule de Suif, karena malam, yang membawa pertimbangan, sudah sedikit mengubah penilaian teman-teman seperjalanannya. Dalam cahaya pagi yang dingin, mereka hampir menyimpan dendam terhadap perempuan itu karena tidak diam-diam mencari orang Prusia itu, agar anggota rombongan lainnya bisa menerima kejutan yang menyenangkan ketika mereka bangun. Apa yang lebih sederhana dari itu?

Lagipula, siapa yang akan tahu? Dia bisa saja menyelamatkan muka dengan mengatakan kepada petugas bahwa dia merasa kasihan atas penderitaan mereka. Langkah seperti itu tidak akan berdampak besar baginya.

Tapi, belum ada seorang pun yang mengaku memiliki pikiran seperti itu.

Sore harinya, karena melihat mereka semua sangat bosan, sang count mengusulkan untuk berjalan-jalan di sekitar desa. Masing-masing mengenakan pakaian hangat, dan rombongan kecil itu berangkat, hanya meninggalkan Cornudet yang lebih suka duduk di dekat perapian, dan kedua biarawati yang biasa menghabiskan hari mereka di gereja atau di pastoran.

Udara dingin, yang semakin hari semakin menusuk, hampir membekukan hidung dan telinga para pejalan kaki, kaki mereka mulai terasa sakit sehingga setiap langkah terasa seperti siksaan, dan ketika mereka sampai di pedesaan terbuka, pemandangannya terlihat begitu suram dan menyedihkan dengan hamparan putih yang tidak terbatas sehingga mereka semua buru-buru kembali ke tempat semula, dengan tubuh yang mati rasa dan hati yang berat.

Keempat perempuan itu berjalan di depan, dan ketiga laki-laki itu mengikuti sedikit di belakang mereka.

Loiseau, yang sangat memahami situasi yang ada, tiba-tiba bertanya, "Apakah perempuan jalang itu akan membuat mereka menunggu lebih lama lagi di tempat terpencil ini?"

Sang count, yang selalu sopan, menjawab bahwa mereka tidak bisa menuntut pengorbanan yang begitu menyakitkan dari seorang perempuan, dan bahwa langkah pertama harus datang dari dirinya sendiri. Monsieur Carre-Lamadon berkomentar bahwa kalau Prancis, seperti yang mereka rencanakan, melakukan serangan balik melalui Dieppe, maka pertemuan mereka dengan musuh pasti akan terjadi di Totes. Pemikiran ini membuat kedua orang lainnya cemas.

“Bagaimana kalau kita melarikan diri dengan berjalan kaki?” tanya Loiseau.

Sang count mengangkat bahunya.

“Bagaimana kau bisa memikirkan hal seperti itu, di tengah salju ini? Dan bersama istri kita? Lagipula, kita akan segera dikejar, disusul dalam sepuluh menit, dan dibawa kembali sebagai tawanan yang berada di bawah pengawasan tentara.”

Memang benar seperti itu; mereka terdiam.

Para perempuan membicarakan soal pakaian, tapi tampaknya ada semacam kekakuan di antara mereka.

Tiba-tiba, di ujung jalan, sang perwira muncul. Sosoknya yang tinggi, kurus, dan berseragam seperti tawon terlihat jelas di tengah salju yang membatasi cakrawala, dan dia berjalan dengan kaki agak terbuka, dengan gerakan khas tentara yang selalu berhati-hati agar sepatu botnya yang dipoles dengan teliti tidak kotor.

Dia membungkuk saat melewati para perempuan, lalu melirik sinis ke arah para laki-laki, yang cukup bermartabat untuk tidak mengangkat topi mereka, meskipun Loiseau bergerak untuk melakukannya.

Wajah Boule de Suif merah padam hingga ke telinga, dan ketiga perempuan yang sudah menikah itu merasa sangat terhina karena disambut seperti itu oleh si prajurit bersama perempuan yang sudah diperlakukannya dengan begitu tidak hormat.

Kemudian mereka mulai membicarakannya, sosoknya, dan wajahnya. Madame Carre-Lamadon, yang mengenal banyak perwira dan menilai mereka sebagai seorang ahli, menganggapnya tidak jelek sama sekali; dia bahkan menyesal bahwa perwira itu bukan orang Prancis, karena kalau begitu, dia akan menjadi seorang hussar yang sangat tampan, yang pasti akan membuat semua perempuan jatuh cinta.

Setelah kembali ke dalam rumah, mereka tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan kata-kata tajam pun terlontar mengenai hal-hal sepele. Makan malam yang hening itu cepat berakhir, dan masing-masing pergi tidur lebih awal dengan harapan bisa tidur, dan dengan demikian menghabiskan waktu.

Keesokan paginya mereka turun dengan wajah lelah dan temperamen yang mudah tersinggung; para perempuan nyaris tidak berbicara kepada Boule de Suif.

Lonceng gereja memanggil orang beriman untuk pembaptisan. Boule de Suif memiliki seorang anak yang dibesarkan oleh para petani di Yvetot. Dia tidak bertemu anaknya setahun sekali, dan tidak pernah memikirkannya; tapi gagasan tentang anak yang akan dibaptis itu menimbulkan gelombang kelembutan yang tiba-tiba terhadap anaknya sendiri, dan dia bersikeras untuk hadir dalam upacara tersebut.

Begitu dia keluar, anggota rombongan lainnya saling pandang lalu merapatkan kursi mereka; karena mereka menyadari bahwa mereka harus memutuskan suatu tindakan. Loiseau mendapat ide: dia mengusulkan agar mereka meminta sang perwira untuk menahan Boule de Suif saja, dan membiarkan yang lain melanjutkan perjalanan mereka.

Monsieur Follenvie dipercayakan dengan tugas ini, tapi dia segera kembali kepada mereka. Orang Jerman itu, yang memahami sifat manusia, menyuruhnya pergi. Dia bermaksud menahan semua pelancong sampai syaratnya dipenuhi.

Kemudian, sifat kasar Madame Loiseau meledak melampaui batas.

“Kita tidak akan mati karena usia tua di sini!” serunya. “Karena memang sudah menjadi pekerjaan perempuan licik itu untuk bersikap seperti itu terhadap laki-laki, saya rasa dia tidak berhak menolak satu laki-laki lebih dari yang lain. Boleh saja saya beri tahu kalian bahwa dia mengambil kekasih siapa pun yang bisa didapatkannya di Rouen —bahkan kusir! Ya, benar, Madame —kusir di kantor prefektur! Saya tahu pasti, karena kusir itu membeli anggur dari kami. Dan sekarang, karena kita harus keluar dari kesulitan, dia malah bersikap sok suci, dasar perempuan jalang! Menurut saya, perwira itu sudah berperilaku sangat baik. Mengapa, ada tiga orang di antara kita, siapa pun dari kita pasti akan lebih disukainya. Tapi tidak, dia puas dengan perempuan yang merupakan milik umum. Dia menghormati perempuan yang sudah menikah. Bayangkan saja. Dia adalah penguasa di sini. Dia hanya perlu berkata: 'Saya menginginkannya!' dan dia bisa saja membawa kita dengan paksa, dengan bantuan tentaranya.”

Kedua perempuan lainnya bergidik; mata Madame Carre-Lamadon yang cantik berbinar, dan wajahnya memucat, seolah-olah perwira itu benar-benar hendak melakukan kekerasan fisik padanya.

Para laki-laki, yang sudah mendiskusikan masalah tersebut di antara mereka sendiri, mendekat. Loiseau, dalam keadaan marah yang meluap-luap, ingin menyerahkan ‘perempuan celaka’ itu, dengan tangan dan kaki terikat, ke tangan musuh. Tapi sang count, yang berasal dari tiga generasi duta besar, dan terlebih lagi, memiliki watak seorang diplomat sejati, lebih menyukai tindakan yang lebih bijaksana.

“Kita harus membujuknya,” katanya.

Kemudian mereka menyusun rencana.

Para perempuan berkumpul; mereka merendahkan suara mereka, dan diskusi menjadi umum, masing-masing memberikan pendapatnya. Tapi percakapan itu sama sekali tidak kasar. Para perempuan, khususnya, mahir dalam ungkapan-ungkapan halus dan ekspresi yang menawan untuk menggambarkan hal-hal yang paling tidak pantas. Orang asing tidak akan mengerti satu pun sindiran mereka, karena bahasa yang mereka gunakan sangat hati-hati. Tapi, melihat bahwa lapisan tipis kesopanan yang dimiliki setiap perempuan di dunia hanya sedikit menembus permukaan, mereka mulai agak menikmati episode yang tidak pantas ini, dan pada dasarnya sangat senang —merasa berada di lingkungan yang akrab dengan mereka, merancang urusan cinta yang tidak bermoral dengan semangat seorang koki yang rakus yang menyiapkan makan malam untuk orang lain.

Keceriaan mereka kembali dengan sendirinya, karena seluruh kejadian itu akhirnya terlihat begitu menghibur bagi mereka. Sang count melontarkan beberapa lelucon yang agak berisiko, tapi disampaikan dengan sangat bijaksana sehingga para hadirin tidak bisa menahan senyum. Loiseau pada gilirannya membuat beberapa lelucon yang jauh lebih vulgar, tapi tidak ada yang tersinggung; dan pemikiran yang diungkapkan dengan begitu lugas oleh istrinya adalah yang paling utama dalam benak semua orang: ‘Karena itu adalah pekerjaan perempuan itu, mengapa dia harus menolak laki-laki itu lebih daripada laki-laki yang lain?’ Madame Carre-Lamadon yang anggun tampaknya berpikir bahwa kalau berada di posisi Boule de Suif, dia akan cenderung memilih sang perwira daripada laki-laki yang lain.

Blokade itu diatur dengan sangat hati-hati seolah-olah mereka sedang mengepung sebuah benteng. Masing-masing menyepakati peran yang akan dimainkan, argumen yang akan digunakan, dan manuver yang akan dilakukan. Mereka memutuskan rencana penyerangan, strategi yang akan mereka gunakan, dan serangan mendadak yang akan menghancurkan benteng manusia ini dan memaksanya untuk menerima musuh di dalam temboknya.

Tapi Cornudet tetap terpisah dari yang lain, tidak ikut dalam rencana tersebut.

Perhatian mereka begitu terpusat sehingga kedatangan Boule de Suif hampir tidak disadari. Tapi sang count berbisik pelan, "Hush!" yang membuat yang lain menoleh. Dia ada di sana. Mereka tiba-tiba berhenti berbicara, dan rasa malu yang samar mencegah mereka untuk beberapa saat menyapanya. Tapi sang countess, yang lebih berpengalaman daripada yang lain dalam tipu daya ruang tamu, bertanya kepadanya, “Apakah acara pembaptisannya menarik?”

Perempuan itu, masih diliputi emosi, menceritakan apa yang sudah dilihat dan didengarnya, menggambarkan wajah-wajah, sikap orang-orang yang hadir, bahkan penampilan gereja. Dia mengakhiri ceritanya dengan kata-kata, “Berdoa sesekali memang bermanfaat.”

Sampai waktu makan siang, para perempuan bersikap ramah kepadanya, agar meningkatkan kepercayaan dirinya dan membuatnya lebih mudah menerima nasihat mereka.

Begitu mereka duduk di meja makan, serangan pun dimulai. Pertama-tama, mereka membuka percakapan yang samar-samar tentang pengorbanan diri. Contoh-contoh kuno dikutip: Judith dan Holofernes30; kemudian, secara tidak masuk akal, Lucretia dan Sextus31; Cleopatra32 dan para jenderal musuh yang berhasil ditundukannya hingga menjadi budak yang hina dengan pesonanya. Selanjutnya diceritakan sebuah kisah luar biasa, yang lahir dari imajinasi para jutawan yang bodoh itu, yang menceritakan bagaimana para perempuan bangsawan Roma menggoda Hannibal33, para letnannya, dan semua tentara bayarannya di Capua. Mereka mengagumi semua perempuan yang dari waktu ke waktu sudah menghentikan kemajuan kemenangan para penakluk, menjadikan tubuh mereka sebagai medan pertempuran, sarana untuk memerintah, sebuah senjata; yang sudah menaklukkan makhluk-makhluk yang mengerikan atau dibenci dengan belaian heroik mereka, dan mengorbankan kesucian mereka untuk pembalasan dan pengabdian.

Semua diucapkan dengan hati-hati dan memperhatikan kesopanan, efeknya diperkuat sesekali oleh ledakan antusiasme yang dipaksakan yang dirancang untuk membangkitkan persaingan.

Orang yang mendengarkan mungkin akan berpikir bahwa satu-satunya peran perempuan di bumi adalah pengorbanan diri yang terus-menerus, penyerahan diri secara terus-menerus kepada keinginan tentara yang bermusuhan.

Kedua biarawati itu terlihat tidak mendengar apa pun, dan tenggelam dalam pikiran mereka. Boule de Suif juga tetap diam.

Sepanjang sore itu dia dibiarkan tenggelam dalam pikirannya. Tapi, alih-alih memanggilnya ‘madame’ seperti yang sudah mereka lakukan sebelumnya, teman-temannya hanya memanggilnya ‘mademoiselle,’ tanpa mengetahui alasan pastinya, tapi seolah-olah ingin menurunkan martabatnya yang sudah diraihnya, dan memaksanya menyadari posisinya yang sudah direndahkan.

Tepat ketika sup disajikan, Monsieur Follenvie muncul kembali, mengulangi kalimat yang diucapkannya malam sebelumnya, “Perwira Prusia itu mengirim utusan untuk menanyakan apakah Mademoiselle Elisabeth Rousset sudah berubah pikiran.”

Boule de Suif menjawab singkat, “Tidak, Monsieur.”

Tapi saat makan malam, koalisi itu melemah. Loiseau membuat tiga komentar yang kurang tepat. Masing-masing membuatnya memeras otak untuk mencari contoh pengorbanan diri lainnya, dan tidak bisa menemukannya, ketika sang countess, mungkin tanpa motif tersembunyi, dan hanya tergerak oleh keinginan samar untuk memberi penghormatan kepada agama, mulai menanyai biarawati yang lebih tua tentang fakta-fakta paling mencolok dalam kehidupan para santo. Ternyata, banyak dari mereka sudah melakukan tindakan yang akan menjadi kejahatan di mata kita, tapi Gereja dengan mudah mengampuni perbuatan seperti itu ketika dilakukan untuk kemuliaan Tuhan atau kebaikan umat manusia. Ini adalah argumen yang kuat, dan sang countess memanfaatkannya sebaik-baiknya. Kemudian, entah karena kesepakatan diam-diam, tindakan keramahan yang terselubung seperti yang dilakukan oleh mereka yang mengenakan jubah gerejawi, atau hanya sebagai akibat dari kebodohan belaka —kebodohan yang justru sangat membantu rencana mereka— biarawati tua itu memberikan bantuan yang luar biasa kepada para konspirator. Mereka mengira dia penakut; ternyata dia pemberani, banyak bicara, dan fanatik. Dia tidak terganggu oleh seluk-beluk kasuistik; doktrinnya sekuat besi; imannya tidak diragukan; hati nuraninya tidak memiliki keraguan. Dia memandang pengorbanan Abraham34 sebagai hal yang wajar, karena dia sendiri tidak akan ragu untuk membunuh ayah dan ibunya kalau dia menerima perintah ilahi untuk itu; dan menurutnya, tidak ada yang bisa membuat Tuhan kita tidak senang, asalkan motifnya terpuji. Sang countess, memanfaatkan otoritas suci sekutunya yang tidak terduga, membimbingnya untuk membuat parafrase panjang dan mencerahkan dari aksioma yang diungkapkan oleh aliran moralis tertentu: ‘Tujuan menghalalkan segala cara.’

“Lalu, suster,” tanyanya, “menurut Anda Tuhan menerima semua cara, dan mengampuni perbuatan itu kalau tujuannya baik?”

“Tidak diragukan lagi, Madame. Suatu tindakan yang tercela dalam dirinya sendiri sering kali memperoleh pahala dari niat yang melatarinya.”

Dan dengan cara inilah mereka terus berbicara, mencoba memahami kehendak Tuhan, meramalkan penghakimanNya, menggambarkanNya akan tertarik pada hal-hal yang sebenarnya hanya sedikit berhubungan denganNya.

Semua diucapkan dengan sangat hati-hati dan bijaksana, tapi setiap kata yang diucapkan oleh perempuan suci dalam pakaian biarawati melemahkan perlawanan marah dari sang pelacur. Kemudian percakapan agak melenceng, dan biarawati itu mulai berbicara tentang biara-biara ordonya, tentang kepala biaranya, tentang dirinya sendiri, dan tentang temannya yang rapuh, Suster St. Nicephore. Mereka dipanggil dari Havre untuk merawat ratusan tentara yang berada di rumah sakit, terserang cacar. Dia menggambarkan para pasien yang malang itu dan penyakit mereka. Dan, sementara mereka sendiri tertahan dalam perjalanan mereka karena kesewenang-wenangan perwira Prusia, puluhan orang Prancis mungkin sekarat, yang seharusnya bisa mereka selamatkan! Karena merawat tentara adalah spesialisasi biarawati tua itu; dia pernah berada di Krimea, di Italia, di Austria; Dan saat dia menceritakan kisah kampanyenya, dia menampakkan dirinya sebagai salah satu dari para biarawati suci peniup seruling dan penabuh genderang yang tampaknya ditakdirkan oleh alam untuk mengikuti perkemahan, menyelamatkan yang terluka dari tengah-tengah pertempuran, dan menenangkan dengan kata-kata, lebih efektif daripada jenderal mana pun, para prajurit yang kasar dan tidak patuh —seorang perempuan yang kuat, wajahnya yang penuh bekas luka dan bopeng itu seakan menjadi gambaran kehancuran perang.

Tidak seorang pun berbicara setelah dia selesai berbicara karena takut merusak efek luar biasa dari kata-katanya.

Begitu makan selesai, para pelancong kembali ke kamar mereka, dan keluar keesokan harinya pada larut malam.

***

Makan siang berlangsung dengan tenang. Benih yang ditabur pada malam sebelumnya diberi waktu untuk berkecambah dan menghasilkan buah.

Pada sore harinya, sang countess mengusulkan untuk berjalan-jalan; kemudian sang count, seperti yang sudah disepakati sebelumnya, menggandeng lengan Boule de Suif, dan berjalan bersamanya agak jauh di belakang yang lain.

Dia mulai berbicara kepada perempuan itu dengan nada kebapakan yang akrab, sedikit meremehkan, yang biasa digunakan laki-laki dari kelasnya saat berbicara kepada perempuan seperti dia, memanggilnya ‘anakku sayang,’ dan merendahkannya dari posisi sosialnya yang tinggi dan reputasinya yang tanpa cela. Dia langsung ke inti persoalan.

“Jadi, Anda lebih memilih membiarkan kami tertahan di sini, terancam seperti Anda juga terhadap semua kekerasan yang akan terjadi kalau pasukan Prusia dipukul mundur, daripada setuju untuk menyerahkan diri, seperti yang sudah Anda lakukan berkali-kali dalam hidup Anda?”

Perempuan itu tidak menjawab.

Dia mencoba bersikap ramah, menggunakan argumen, dan sentimen. Dia tetap bersikap layaknya seorang count, bahkan ketika, bila perlu, dia mengadopsi sikap kesopanan dan menyampaikan pidato-pidato yang manis —bahkan lembut. Dia memuji jasa yang akan diberikan perempuan itu kepada mereka, berbicara tentang rasa terima kasih mereka; lalu, tiba-tiba, menggunakan kata ganti ‘engkau’ yang akrab, “Dan kau tahu, sayangku, dia bisa membanggakan diri karena sudah menaklukkan seorang gadis cantik yang jarang dilihatnya di negerinya sendiri.”

Boule de Suif tidak menjawab, dan bergabung dengan rombongan lainnya.

Begitu mereka kembali, dia langsung pergi ke kamarnya, dan tidak terlihat lagi. Kecemasan semua orang mencapai puncaknya. Apa yang akan dilakukannya? Kalau dia masih menolak, betapa canggungnya keadaan itu bagi mereka semua!

Waktu makan malam tiba; mereka menunggunya dengan sia-sia. Akhirnya Monsieur Follenvie masuk, mengumumkan bahwa Mademoiselle Rousset sedang tidak sehat, dan mereka boleh duduk makan. Mereka semua menajamkan telinga.

Sang count mendekati pemilik penginapan, dan berbisik, “Apakah semuanya baik-baik saja?”

"Ya."

Karena menghormati kesopanan, dia tidak mengatakan apa-apa kepada teman-temannya, tapi hanya mengangguk sedikit ke arah mereka. Desahan lega yang besar keluar dari dada semua orang; setiap wajah berseri-seri dengan sukacita.

“Demi Tuhan!” teriak Loiseau, “Saya akan mentraktir semua orang sampanye kalau ada yang bisa ditemukan di tempat ini.”

Dan betapa terkejutnya Madame Loiseau ketika pemilik toko kembali dengan empat botol di tangannya. Mereka semua tiba-tiba menjadi banyak bicara dan riang; kegembiraan yang hidup memenuhi hati semua orang. Sang count tampaknya baru menyadari untuk pertama kalinya bahwa Madame Carre-Lamadon itu menawan; sang pedagang memberikan pujian kepada sang countess. Percakapan menjadi hidup, lincah, cerdas, dan, meskipun banyak lelucon yang sangat tidak sopan, semua orang terhibur olehnya, dan tidak ada yang tersinggung —kemarahan, seperti emosi lainnya, bergantung pada lingkungan sekitar. Dan suasana mental secara bertahap dipenuhi dengan imajinasi yang vulgar dan pikiran yang kotor.

Saat hidangan penutup, bahkan para perempuan ikut melontarkan sindiran yang disampaikan dengan halus. Tatapan mereka penuh makna; mereka sudah minum banyak. Sang count, yang bahkan di saat-saat santainya tetap menjaga sikap yang bermartabat, melontarkan perbandingan yang sangat dihargai tentang keadaan saat ini dengan berakhirnya musim dingin yang dihabiskan dalam kesunyian dingin Kutub Utara dan kegembiraan para pelaut yang selamat dari kapal karam yang akhirnya melihat jalur ke selatan terbentang di depan mata mereka.

Loiseau, yang terlihat sangat nyaman dengan suasana hatinya, berdiri sambil mengangkat segelas sampanye tinggi-tinggi.

“Saya bersulang untuk keselamatan kita!” teriaknya.

Semua berdiri, dan menyambut acara bersulang dengan sorak sorai. Bahkan kedua biarawati yang baik hati itu mengalah pada bujukan para perempuan, dan setuju untuk membasahi bibir mereka dengan anggur berbusa, yang belum pernah mereka cicipi sebelumnya. Mereka menyatakan rasanya seperti limun bersoda, tapi dengan rasa yang lebih enak.

“Sayang sekali,” kata Loiseau, “kita tidak punya piano; kita bisa saja menari quadrille35.”

Cornudet tidak mengucapkan sepatah kata pun atau bergerak; dia terlihat tenggelam dalam pikiran serius, dan sesekali menarik-narik janggutnya yang lebat dengan keras, seolah mencoba menambah panjangnya lagi. Akhirnya, menjelang tengah malam, ketika mereka hendak berpisah, Loiseau, yang langkahnya tidak mantap, tiba-tiba menepuk punggungnya, sambil berkata dengan suara serak, “Anda tidak ceria malam ini; mengapa Anda begitu pendiam, Pak Tua?”

Cornudet mendongakkan kepalanya, melirik sekilas dengan sinis ke arah kerumunan, lalu menjawab, “Saya katakan kepada kalian semua, kalian sudah melakukan hal yang tercela!”

Dia bangkit, sampai di pintu, dan mengulangi, "Tercela!" lalu menghilang.

Rasa dingin menyelimuti semuanya. Loiseau sendiri terlihat bodoh dan bingung sesaat, tapi segera kembali tenang, dan sambil tertawa terbahak-bahak, berseru, “Sungguh, kalian semua terlalu naif untuk urusan semacam ini!”

Ketika didesak untuk memberikan penjelasan, ia menceritakan ‘misteri koridor,’ yang membuat para pendengarnya sangat terhibur. Para perempuan hampir tidak bisa menahan kegembiraan mereka. Sang count dan Monsieur Carre-Lamadon tertawa terbahak-bahak hingga menangis. Mereka hampir tidak percaya apa yang mereka dengar.

“Apa! Anda yakin? Dia ingin——”

“Saya katakan kepada Anda, saya melihatnya dengan mata kepala sendiri.”

“Dan dia menolak?”

“Karena orang Prusia itu ada di ruangan sebelah!”

“Anda pasti salah?”

“Saya bersumpah saya mengatakan yang sebenarnya kepada Anda.”

Sang count tertawa terbahak-bahak. Sang pedagang memegangi perutnya. Loiseau melanjutkan, “Jadi, Anda bisa membayangkan bahwa dia sama sekali tidak menganggap urusan malam ini lucu.”

Dan ketiganya mulai tertawa lagi, tersedak, batuk, hampir sakit karena terlalu gembira.

Kemudian mereka berpisah. Tapi Madame Loiseau, yang memang pendendam, berkomentar kepada suaminya saat mereka hendak tidur bahwa "si perempuan Carre-Lamadon yang sombong itu bicara ngawur sepanjang malam."

“Kau tahu,” katanya, “ketika perempuan menyukai seragam, bagi mereka sama saja apakah laki-laki yang mengenakannya orang Prancis atau Prusia. Itu benar-benar menjijikkan!”

***

Pagi berikutnya, salju terlihat seperti bahan bakar yang berkilauan di bawah sinar matahari musim dingin yang cerah. Kereta kuda, yang akhirnya siap, menunggu di depan pintu; sementara sekawanan merpati putih, dengan mata merah muda berbintik hitam di tengahnya, mengembangkan bulu putih mereka dan berjalan dengan tenang di antara kaki enam ekor kuda, mematuk kotoran yang mengepul.

Sang kusir, yang terbungkus mantel kulit domba, sedang menghisap pipa di atas kereta, dan semua penumpang, berseri-seri gembira karena keberangkatan mereka sudah dekat, sedang menyiapkan bekal untuk sisa perjalanan.

Mereka tinggal menunggu Boule de Suif. Akhirnya dia muncul.

Dia terlihat agak malu dan canggung, lalu melangkah dengan ragu-ragu menuju teman-temannya, yang serentak menoleh seolah-olah tidak melihatnya. Sang count, dengan penuh martabat, memegang lengan istrinya dan menjauhkannya dari sentuhan yang kotor itu.

Perempuan itu berdiri diam, terpaku karena terkejut; lalu, mengumpulkan keberanian, menyapa istri sang pedagang dengan sopan, "Selamat pagi, Madame," yang hanya dijawab oleh perempuan itu dengan anggukan kecil dan kurang ajar, disertai dengan tatapan harga diri yang tersinggung. Tiba-tiba semua orang terlihat sangat sibuk, dan menjauh dari Boule de Suif seolah-olah roknya terinfeksi penyakit mematikan. Kemudian mereka bergegas ke kereta, diikuti oleh pelacur yang dibenci itu, yang, tiba paling terakhir, diam-diam mengambil tempat yang ditempatinya selama bagian pertama perjalanan.

Yang lain seolah-olah tidak melihat atau mengenalnya —semua kecuali Madame Loiseau, yang melirik ke arahnya dengan jijik, lalu berkata setengah keras kepada suaminya, “Untunglah aku tidak duduk di samping makhluk itu!”

Kendaraan besar itu mulai bergerak, dan perjalanan pun dimulai kembali.

Awalnya tidak seorang pun berbicara. Boule de Suif bahkan tidak berani mengangkat matanya. Dia merasa marah sekaligus terhina oleh teman-teman seperjalanannya, karena sudah menyerah kepada orang Prusia yang ke dalam pelukannya mereka melemparkannya dengan begitu munafik.

Tapi, sang countess, menoleh ke arah Madame Carre-Lamadon, segera memecah keheningan yang menyakitkan itu, “Saya rasa Anda mengenal Madame d'Etrelles?”

“Ya; dia adalah teman saya.”

“Perempuan yang sangat menawan!”

“Menyenangkan! Sangat berbakat, dan seorang seniman sejati. Dia bernyanyi dengan luar biasa dan menggambar dengan sempurna.”

Sang pedagang sedang mengobrol dengan sang bangsawan, dan di tengah derak jendela, sesekali terdengar sepatah kata dari percakapan mereka: “Saham—jatuh tempo—premium—batas waktu.”

Loiseau, yang sudah mengambil dari penginapan setumpuk kartu usang yang tebal dengan noda minyak akibat lima tahun bersentuhan dengan meja yang setengah dilap, memulai permainan bezique36 dengan istrinya.

Para biarawati yang baik, serentak mengambil rosario panjang yang tergantung di pinggang mereka, membuat tanda salib, dan mulai menggumamkan doa-doa yang tidak berkesudahan secara serempak, bibir mereka bergerak semakin cepat, seolah-olah mereka berusaha mengungguli yang lain dalam perlombaan doa; dari waktu ke waktu mereka mencium sebuah medali, dan membuat tanda salib lagi, lalu melanjutkan gumaman mereka yang cepat dan tidak bisa dimengerti.

Cornudet duduk diam, tenggelam dalam pikirannya.

Ah, tiga jam telah berlalu. Loiseau mengumpulkan kartu-kartunya, dan mengatakan bahwa dia lapar.

Kemudian istrinya mengeluarkan sebuah bungkusan yang diikat dengan tali, dari mana dia mengeluarkan sepotong daging sapi muda dingin. Daging itu dipotongnya menjadi irisan tipis yang rapi, dan keduanya mulai makan.

“Sebaiknya kita juga melakukan hal yang sama,” kata sang countess.

Yang lain setuju, dan dia membongkar bekal yang sudah disiapkan untuk dirinya sendiri, sang count, dan keluarga Carre-Lamadon. Di salah satu piring oval itu, yang tutupnya dihiasi dengan kelinci dari tanah liat, sebagai tanda bahwa di dalamnya terdapat pai daging buruan, terdapat hidangan lezat yang terdiri dari daging buruan berwarna cokelat yang dilumuri dengan irisan daging asap dan dibumbui dengan daging lain yang dicincang halus. Sepotong keju Gruyere37 padat, yang dibungkus dengan koran, bertuliskan: “Daftar Berita,” di permukaannya yang kaya dan berminyak.

Kedua biarawati yang baik mengeluarkan sepotong sosis yang berbau bawang putih menyengat; dan Cornudet, dengan kedua tangannya sekaligus memasukkan ke dalam saku mantelnya yang longgar, mengeluarkan empat butir telur rebus dari satu saku dan sepotong roti dari saku lainnya. Dia mengupas kulitnya, melemparkannya ke jerami di bawah kakinya, dan mulai melahap telur-telur itu, membiarkan potongan-potongan kuning telur yang cerah jatuh ke janggutnya yang lebat, tempat potongan-potongan itu terlihat seperti bintang.

Dalam ketergesaan dan kebingungan saat keberangkatannya, Boule de Suif tidak memikirkan apa pun, dan, tertahan oleh amarah, dia memperhatikan semua orang makan dengan tenang. Awalnya, amarah yang tidak terkendali mengguncang seluruh tubuhnya, dan dia membuka bibirnya untuk meneriakkan kebenaran kepada mereka, untuk menghujani mereka dengan rentetan hinaan; tapi dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, karena begitu tercekik oleh kemarahan.

Tidak seorang pun memandangnya, tidak seorang pun memikirkannya. Dia merasa dirinya tenggelam dalam cemoohan makhluk-makhluk berbudi luhur ini, yang pertama-tama sudah mengorbankannya, lalu menolaknya sebagai sesuatu yang tidak berguna dan najis. Kemudian dia teringat keranjang besarnya yang penuh dengan makanan enak yang sudah mereka lahap dengan rakus: dua ayam yang dilapisi jeli, pai, buah pir, empat botol anggur merah; dan amarahnya meledak seperti tali yang terlalu tegang, dan dia hampir menangis. Dia berusaha keras untuk mengendalikan diri, menegakkan tubuhnya, menelan isak tangis yang mencekiknya; tapi air matanya tetap mengalir, berkilau di tepi kelopak matanya, dan segera dua tetes air mata yang berat mengalir perlahan di pipinya. Tetesan lainnya menyusul lebih cepat, seperti air yang merembes dari batu, dan jatuh, satu demi satu, di dadanya yang bulat. Dia duduk tegak, dengan ekspresi tetap, wajahnya pucat dan kaku, berharap dengan putus asa agar tidak seorang pun melihatnya menangis.

Tapi sang countess menyadari bahwa perempuan itu menangis, dan dengan sebuah isyarat dia menarik perhatian suaminya pada hal itu. Suaminya mengangkat bahu, seolah berkata, “Ya sudahlah, lalu kenapa? Itu bukan salah saya.”

Madame Loiseau tertawa penuh kemenangan, dan bergumam, “Dia menangis karena malu.”

Kedua biarawati itu kembali berdoa, pertama-tama membungkus sisa sosis mereka dengan kertas.

Kemudian Cornudet, yang sedang mencerna telurnya, meregangkan kakinya yang panjang di bawah kursi seberang, merebahkan diri, melipat tangannya, tersenyum seperti orang yang baru saja memikirkan lelucon yang bagus, dan mulai menyiulkan lagu La Marseillaise38.

Wajah teman-teman seperjalanannya berubah muram; suasana di sekitar mereka tampaknya tidak menyenangkan; mereka menjadi gugup dan mudah tersinggung, dan terlihat siap melolong seperti anjing saat mendengar suara organ. Cornudet menyadari ketidaknyamanan yang ditimbulkannya, dan bersiul lebih keras; kadang-kadang dia bahkan menyenandungkan kata-kata:

 

Amour sacre de la patrie,

Conduis, soutiens, nos bras vengeurs,

Liberte, liberte cherie,

Combats avec tes defenseurs!39

 

Kereta kuda melaju lebih cepat, salju kini lebih tebal; dan sepanjang perjalanan ke Dieppe, selama berjam-jam perjalanan yang panjang dan membosankan, pertama-tama di senja yang semakin gelap, kemudian dalam kegelapan pekat, dengan suara lantang di atas gemuruh kendaraan, Cornudet terus bersiul dengan penuh dendam dan monoton, memaksa para pendengarnya yang lelah dan jengkel untuk mengikuti lagu itu dari awal hingga akhir, untuk mengingat setiap kata dari setiap baris, karena setiap kata diulang berulang kali dengan kegigihan yang tidak kenal lelah.

Dan Boule de Suif masih menangis, dan terkadang isak tangis yang tidak bisa ditahannya itu terdengar dalam kegelapan di antara dua bait lagu itu.

***

Kalau Anda menyukai cerpen ini, Anda mungkin juga akan menyukai cerita pendek Guy de Maupassant yang lain di sini; atau cerita pendek terjemahan dari penulis yang lain di sini.

***

Catatan kaki:

1 Dragoon: awalnya merupakan pasukan infanteri berkuda yang menggunakan kuda untuk mobilitas, tapi turun dari kuda untuk bertempur dengan berjalan kaki. Sejak awal abad ke-17 dan seterusnya, dragoon semakin banyak digunakan sebagai kavaleri konvensional dan dilatih untuk bertempur dengan pedang dan senjata api dari atas kuda. Meskipun penggunaannya sudah ada sejak akhir abad ke-16, resimen dragoon didirikan di sebagian besar tentara Eropa selama abad ke-17 dan awal abad ke-18; mereka memberikan mobilitas yang lebih besar daripada infanteri biasa tapi jauh lebih murah daripada kavaleri.

2 Uhlan: sejenis pasukan kavaleri ringan, terutama dipersenjatai dengan tombak. Uhlan bermula dari tartar di kavaleri tidak teratur Lituania, yang kemudian juga diadopsi oleh negara-negara lain selama abad ke-18, termasuk Polandia, Prancis, Rusia, Prusia, Sachsen, dan Austria. Istilah 'lancer' sering digunakan secara bergantian dengan 'uhlan'; resimen lancer yang kemudian dibentuk untuk Angkatan Darat Inggris secara langsung terinspirasi oleh uhlan dari angkatan darat lain (walaupun mereka tidak pernah dikenal dengan nama itu).

3 Hussar: pasukan kelas kavaleri ringan, yang awalnya berasal dari Kerajaan Hongaria pada abad ke-15 dan ke-16. Gelar dan pakaian khas para penunggang kuda ini kemudian diadopsi secara luas oleh resimen kavaleri ringan di angkatan bersenjata Eropa pada akhir abad ke-17 dan ke-18. Pada abad ke-19, hussar mengenakan jaket yang dihiasi dengan jalinan plus topi bulu shako atau busby dan mengembangkan citra romantis sebagai sosok yang gagah dan petualang.

4 Bangsa Norman: populasi yang muncul di Normandia abad pertengahan dari percampuran antara pemukim Viking Norse dan penduduk lokal Francia Barat.

5 Monsieur: tuan (Prancis); dari bahasa Prancis Pertengahan mon sieur, secara harfiah tuanku'.

6 Madame: nyonya (Prancis).

7 Comte: istilah Prancis yang merupakan padanan dari istilah count dalam Bahasa Inggris; gelar bangsawan historis di beberapa negara Eropa, yang bervariasi dalam status relatifnya, umumnya berada di peringkat menengah dalam hierarki bangsawan.

8 Comtesse: bentuk feminin dari Comte.

9 Henry IV (1367–1413): juga dikenal sebagai Henry Bolingbroke (lahir di Kastil Bolingbroke ), adalah Raja Inggris dari tahun 1399 hingga 1413, Penguasa Irlandia dan adipati Aquitaine. Henry adalah putra John dari Gaunt, Adipati Lancaster dan cucu Raja Edward III.

10 Louis Philippe I (1773–1850): dijuluki Raja Rakyat, adalah Raja Prancis dari tahun 1830 hingga 1848, raja kedua terakhir Prancis, raja Prancis terakhir yang menyandang gelar 'raja', dan satu-satunya raja Prancis yang berasal dari cabang Orléans dari keluarga Bourbon. Dia turun takhta selama Revolusi Prancis tahun 1848, yang menyebabkan berdirinya Republik Kedua Prancis.

11 Prefek: gelar magisterial dengan definisi yang beragam, tapi pada dasarnya merujuk kepada pemimpin suatu wilayah administratif.

12 Tantalus: juga disebut Atys, adalah tokoh mitologi Yunani, yang paling terkenal karena hukumannya di Tartarus karena mengungkapkan banyak rahasia para dewa, mencuri ambrosia dari mereka, atau mencoba menipu mereka agar memakan putranya, dia disuruh berdiri di genangan air di bawah pohon buah dengan cabang-cabang rendah, dengan buah yang selalu luput dari genggamannya, dan air yang selalu surut sebelum dia bisa minum.

13 Mon Dieu: ya Tuhan (Prancis).

14 Menyeberangi Sungai Rubicon: idiom yang berarti "melewati sesuatu tanpa kemungkinan kembali". Maknanya berasal dari penyeberangan sungai Rubicon oleh Julius Caesar pada Januari 49 SM di kepala Legiun ke-13. Caesar tidak diizinkan untuk memimpin pasukan di Italia, dan dengan menyeberangi sungai dengan pasukannya, dia menentang hukum dan mempertaruhkan nyawanya. Penyeberangan tersebut memicu perang saudara, yang akhirnya menyebabkan Caesar menjadi diktator seumur hidup (dictator perpetuo).

15 Pate de foie gras: pasta hati bebek atau angsa (Prancis).

16 Mesdames: bentuk jamak dari Madame.

17 Charles-Louis Napoléon Bonaparte (1808–1873): dikenal sebagai Napoleon III; Presiden Prancis dari tahun 1848 hingga 1852, kemudian Kaisar Prancis dari tahun 1852 hingga penggulingannya pada tahun 1870. Dia adalah presiden pertama, kaisar kedua, dan raja terakhir Prancis.

18 Despotik: penguasa yang berbuat sekehendak hati; kepala negara atau raja yang menjalankan kekuasaan dengan sewenang-wenang.

19 Alsace: wilayah budaya dan komunitas teritorial di wilayah administratif Grand Est di timur laut Prancis, di tepi barat hulu Sungai Rhine, berbatasan dengan Jerman dan Swiss; wilayah yang dulunya diperebutkan di Prancis timur yang telah berpindah tangan antara Prancis dan Jerman sebanyak lima kali sejak tahun 1681. Budaya Alsatian ditandai dengan perpaduan pengaruh Jerman dan Prancis.

20 Mademoiselle: nona (Prancis).

21 Pipa meerschaum: pipa rokok yang terbuat dari mineral sepiolit, juga dikenal sebagai meerschaum. Meerschaum terkadang ditemukan mengapung di Laut Hitam dan menyerupai buih laut (oleh karena itu menjadi asal nama Jerman, serta nama Prancis untuk zat yang sama, écume de mer).

22 Dinasti Orléans: kadang-kadang disebut dinasti Bourbon-Orléans, adalah pemegang keempat dari nama keluarga yang sebelumnya digunakan oleh beberapa cabang dinasti Kerajaan Prancis, semuanya berasal dari garis keturunan laki-laki sah dari pendiri dinasti tersebut, Hugh Capet. Dinasti ini didirikan oleh Philippe I, Adipati Orléans  putra bungsu Louis XIII dan adik laki-laki Louis XIV, 'Raja Matahari'.

23 Bertrand du Guesclin (1320–1380): dijuluki " Elang Brittany" atau "Anjing Hitam Brocéliande", seorang ksatria Breton dan komandan militer penting di pihak Prancis selama Perang Seratus Tahun. Dari tahun 1370 hingga kematiannya, dia menjabat sebagai Constable Prancis untuk Raja Charles V. Terkenal karena strategi Fabian-nya yang menghindari pertempuran besar kalau memungkinkan, dia ikut serta dalam tujuh pertempuran besar dan memenangkan lima di antaranya di mana dia memimpin.

24 Joan of Arc (1412–1431): santo pelindung Prancis, dihormati sebagai pembela bangsa Prancis atas perannya dalam pengepungan Orléans dan desakannya pada penobatan Charles VII dari Prancis selama Seratus Tahun. Dengan menyatakan bahwa dia bertindak di bawah bimbingan ilahi, dia menjadi pemimpin militer yang mendapatkan pengakuan sebagai penyelamat Prancis.

25 Napoleon Bonaparte ​​(1769–1821): kemudian dikenal dengan nama pemerintahannya Napoleon I, Kaisar Prancis dari 18 Mei 1804 hingga abdikasi pertamanya pada tahun 1814, dengan pemulihan singkat selama Seratus Hari pada tahun 1815. Dia menjadi terkenal sebagai seorang jenderal selama Revolusi Prancis dan memimpin serangkaian kampanye militer di seluruh Eropa dan Afrika Utara selama Perang Revolusi Prancis dan Perang Napoleon.

26 Napoléon Eugène, Pangeran Imperial (1856–1879): juga dikenal sebagai Louis-Napoléon, anak tunggal Napoleon III, Kaisar Prancis, dan Permaisuri Eugénie. Setelah ayahnya digulingkan pada tahun 1870, dia pindah ke Inggris bersama keluarganya. Setelah kematian ayahnya pada Januari 1873, dia diproklamasikan oleh faksi Bonapartis sebagai Napoléon IV.

27 Trente et un: tiga puluh satu (Prancis); permainan kartu yang dimainkan oleh dua hingga tujuh orang, di mana pemain berusaha mengumpulkan kartu yang berjumlah 31. Permainan ini menjadi dasar dari keseluruhan atau sebagian dari berbagai permainan sejak abad ke-15 seperti commerce, cribbage, trentuno, dan wit and reason.

28 Écarté: permainan kasino Prancis kuno untuk dua pemain yang masih dimainkan hingga saat ini. Ini adalah permainan pengambilan trik, mirip dengan whist, tapi dengan fase pembuangan khusus dan sesuai namanya; kata écarté berarti 'dibuang'. Écarté populer pada abad ke-19, tapi sekarang jarang dimainkan. Permainan ini digambarkan sebagai 'permainan elegan turunan Triomphe yang menyenangkan untuk dimainkan' dan 'permainan klasik yang harus diketahui oleh semua pemain kartu yang terdidik.'

29 Eggnog: secara historis juga dikenal (ketika mengandung alkohol) sebagai milk punch atau egg milk punch; minuman berbasis susu yang kaya, dingin, manis, dan creamy yang secara tradisional dibuat dengan susu dan/atau krim, gula, telur kocok (yang memberikan tekstur berbusa) dan, dalam beberapa konteks, minuman beralkohol suling seperti brendi, rum atau bourbon.

30 Judith dan Holofernes: kisah tentang seorang janda Yahudi yang cantik, Judith, yang memenggal kepala jenderal Asyur, Holofernes, yang sedang bersiap untuk menghancurkan kota Judith, kota Bethulia.

31 Lucretia dan Sextus: kisah tentang seorang perempuan bangsawan Roma, Lucretia, yang diperkosa oleh putra raja, Sextus Tarquinius. Lucretia kemudian bunuh diri yang memicu pemberontakan yang menggulingkan monarki Romawi dan menyebabkan transisi pemerintahan Romawi dari kerajaan menjadi republik.

32 Cleopatra VII Thea Philopator (70/69 SM–30 SM): ratu Kerajaan Ptolemaik Mesir dari tahun 51 hingga 30 SM, dan firaun Helenistik terakhir yang aktif. Kisahnya yang paling terkenal adalah kisah cintanya dengan Julius Caesar dan perselingkuhannya dengan Mark Antony.

33 Hannibal (247 SM–183/181 SM): jenderal dan negarawan Punik-Kartago yang memimpin pasukan Kartago dalam pertempuran mereka melawan Republik Romawi selama Perang Punik Kedua.

34 Abraham: patriark yang dihormati dalam agama-agama Abrahamik, termasuk Yudaisme, Kristen, dan Islam. Dalam Yudaisme, dia adalah bapak pendiri dan patriark Ibrani pertama yang memulai hubungan perjanjian antara bangsa Yahudi dan Tuhan; dalam Kekristenan, dia adalah nenek moyang spiritual semua orang percaya, baik Yahudi maupun non-Yahudi; dan dalam Islam, dia adalah mata rantai dalam rangkaian nabi-nabi Islam yang dimulai dengan Adam dan berpuncak pada Muhammad. Abraham juga dihormati dalam agama-agama Abrahamik lainnya, termasuk Agama Baháʼí dan agama Druze. Dia dianggap sebagai leluhur bersama bangsa Arab melalui putranya Ismael dan bangsa Yahudi melalui putranya Ishak.

35 Quadrille: tarian yang populer di Eropa dan koloninya pada akhir abad ke-18 dan ke-19. Quadrille terdiri dari rangkaian empat hingga enam contredanses. Belakangan, quadrille sering ditarikan dengan iringan medley melodi opera.

36 Bezique: permainan kartu penggabungan dan pengambilan trik abad ke-19 Prancis untuk dua pemain, yang diimpor ke Inggris dan masih dimainkan hingga saat ini.

37 Gruyère: keju Swiss yang berasal dari Fribourg, Vaud, Neuchâtel, Jura, dan Bern di Swiss. Namanya diambil dari kota Gruyères di Fribourg.

38 La Marseillaise: lagu kebangsaan Prancis. Lagu ini ditulis pada tahun 1792 oleh Claude Joseph Rouget de Lisle di Strasbourg setelah deklarasi perang oleh Republik Prancis Pertama melawan Austria, dan awalnya berjudul 'Chant de Guerre pour l'Armée du Rhin' (Lagu Perang untuk Tentara Rhine ).

39 Amour sacre de la patrie; conduis, soutiens, nos bras vengeurs; liberte, liberte cherie; combats avec tes defenseurs!: cinta suci kepada tanah air; pimpinlah, dukunglah, senjata pembalas dendam kita; kemerdekaan, kemerdekaan yang berharga; berjuanglah bersama para pembelamu! (Prancis).

Comments

Populer