Orang-Orang Dari Kota Cahaya

Orang-Orang Dari Kota Cahaya


Akan kuceritakan padamu tentang sebuah kota. Tapi aku bukan Marcopolo Si Pencatat. Aku hanya seorang penutur cerita. Maka akan kuceritakan saja padamu tentang dua orang di kota itu, orang-orang dari Kota Cahaya.

Selasa. Café Rouge. Hari itu memang hari Selasa. Tengah hari. Seorang laki-laki sedang duduk di sebuah kafe yang disebut Café Rouge. Artinya kira-kira kafe merah. Bayangan laki-laki itu memanjang ditimpa sinar matahari. Dari ujung kakinya sampai ke pot tanaman di tepi Jalan Picardie. Tidak ada yang istimewa tentang itu, kecuali bahwa laki-laki itu adalah satu-satunya orang yang masih punya bayangan di kota ini. Orang-orang di sini menyebutnya: Dia Yang Masih Punya Bayangan. 

Di kota ini memang tidak seorang pun mempunyai bayangan. Begitupun gedung-gedung atau pohon-pohon. Semua di sini seperti dilalui cahaya begitu saja. Mereka tidak tembus cahaya, tapi cahaya tidak menjatuhkan bayangan dari tubuh mereka. Itulah sebabnya mereka jarang sekali keluar dari rumahnya pada siang hari. Kalaupun terpaksa, mereka akan bergerak tergesa-gesa. Hal lain, mereka tidak mempunyai nama. Mereka tidak saling memberi nama satu sama lain. Jadi mereka menyebut orang-orang lain sesuai dengan ciri yang mereka bawa. Kalau ditanya tentang dirinya sendiri, mereka hanya akan menjawab, “Aku adalah aku.” Tanpa bayangan, tanpa nama, kota ini begitu terang dan suram sekaligus. 

Laki-laki itu datang ke kota ini seminggu yang lalu. Pada hari Selasa yang lain. Kalau ditanya, dia akan berkata bahwa dirinya datang dari sebuah Kota Lama. Tapi orang-orang di sini menyebutnya datang dari sebuah entah. Saat datang pertama kali, beberapa anak kecil berteduh di bawah bayangannya. Mencoba sebuah sensasi baru: bayangan. Tapi orang tua mereka kemudian melarang mereka. Sesuatu yang baru bisa jadi berbahaya bagi mereka dan anak-anak mereka. 

Satu-satunya orang di kota itu yang masih berani keluar rumah pada siang hari adalah seorang perempuan. Pertama, karena dia adalah pemilik sekaligus pelayan di kafe ini. Kedua, karena sekarang dia punya tamu yang sedang menunggu di luar, seorang laki-laki yang masih punya bayangan. Maka perempuan itu keluar dengan sebuah buku kecil di tangannya. Rambutnya dihiasi pita. Putih. Indah sekali. 

“Kau mau pesan apa, Tuan?” tanyanya. 

“Kalau kau punya sesuatu yang sedikit keras –mungkin bourbon--aku mungkin bisa mabuk di sini saat ini. Tapi ini tengah hari, lemon mungkin baik untukku.” 

Perempuan itu tidak menjawab. Dia langsung kembali masuk ke dalam. Kita tidak tahu apakah dia akan membawakan bourbon atau lemon. Kalau laki-laki tadi tidak terlalu istimewa, sebaliknya dengan perempuan yang baru saja masuk itu, dia sangat-sangat istimewa. Perempuan itu adalah satu-satunya orang yang tembus cahaya. Tubuhnya tembus pandang. Transparan. Lalu bagaimana kita melihatnya kalau dia tembus pandang? Jantungnya. Satu-satunya bagian tubuhnya yang tidak tembus pandang adalah jantungnya. Jantungnya begitu merah, mungkin karena itulah kafe ini disebut kafe merah. Dan jantungnya yang merah itu berdegup kencang, begitu kencang. Kita bisa menari dengan iringan degup jantungnya. Sama seperti orang-orang lain di kota ini, perempuan itu tidak punya nama. Tapi kalian pasti bisa menebak bagaimana orang-orang di sini menyebutnya: Dia Yang Tembus Pandang. 

Bukan itu saja. Kalian mungkin lupa memperhatikan bahwa kota ini berhe ti ketika perempuan itu keluar. Kota ini akan berhenti setiap kali perempuan itu keluar. Orang-orang yang tadi bergerak tergesa-gesa akan berhenti. Mereka akan memandang perempuan itu sampai lama, sampai dia hilang. Mereka akan mendengarkan degup jantungnya dengan teliti. Mereka juga ingin menari, tapi kaki-kaki mereka tidak bisa bergerak. Mereka berhenti sampai lama, sampai perempuan itu hilang. 

“Boleh aku duduk di sini?” 

Perempuan itu akhirnya keluar dengan segelas lemon di tangannya. Diletakkannya di atas meja lalu dia duduk di sana, di sebelah laki-laki itu tanpa menunggu jawaban atas pertanyannya. 

“Apa yang kaucari di sini, Tuan?”

“Aku tidak mencari apa-apa, atau siapa-siapa, di sini.” 

“Apapun yang kaucari, tidak akan kautemukan. Tidak ada apa-apa di sini. Kota ini sudah tidak punya apa-apa.” 

Kemudian hujan turun. Mereka berdua membiarkannya saja. Seolah-olah dia tidak pernah ada. Tapi orang-orang kota yang sedari tadi berhenti untuk memperhatikan perempuan itu mulai berlarian ke arahnya. Mereka membawakannya payung lalu melindunginya dari hujan, sementara laki-laki yang masih punya bayangan, mereka biarkan saja. Hujan pun jatuh di atas keningnya. Pelan-pelan, hujan mulai menutupi seluruh tubuhnya. 

“Kau begitu istimewa di sini,” kata laki-laki itu. 

“Aku harus pergi. Kita pasti akan bertemu lagi nanti,” katanya lagi. 

*** 

Hari ini adalah hari Selasa yang lain lagi ketika laki-laki itu datang lagi ke Café Rouge. Satu minggu setelah percakapannya dengan perempuan yang tembus pandang dihentikan oleh hujan. Hari Selasa kali ini, hujan datang lebih awal, tapi laki-laki itu tetap datang ke Café Rouge. Perempuan itu sendiri sudah menunggunya di depan pintu. 

“Aku sudah berdiri lama di sini, berharap kau akan mengunjungiku dalam hujan. Aku menunggumu bersama pohon-pohon yang menggigil,” sambut perempuan itu. 

“Apakah kau punya sesuatu yang sedikit keras? Kalau kau punya sesuatu yang sedikit keras –mungkin bourbon--aku mungkin bisa mabuk di sini saat ini.” 

Perempuan itu tidak menjawab. Dia pergi begitu saja, masuk ke dalam. Saat dia keluar, hanya ada segelas lemon di tangannya. Diletakkannya di atas meja, lalu dia duduk di sebelah laki-laki itu. Kali ini tanpa bertanya terlebih dulu. Kali ini juga, tidak ada orang-orang yang melindunginya dari hujan. Laki-laki itu sudah membawakannya payung. Bukan itu saja, laki-laki itu juga membawakannya seikat kembang asoka. 

“Aku sudah lama tinggal di sini. Jalan Picardie ini masih seperti dulu. Masih tetap dingin.” 

Perempuan itu meraih kembang asoka yang diberikan oleh laki-laki yang masih punya bayangan. Lalu menimangnya seperti bayi. Jantungnya yang merah berdegup lebih kencang dari biasanya. Seandainya tidak hujan, laki-laki itu mungkin sudah menari dengan iringan degup jantung perempuan yang tembus pandang itu. 

“Di manakah kautemukan kembang ini?” 

“Di tepi Jalan Thorigny.” 

“Kembang-kembang ini mungkin masih ingin hidup, tidakkah kau tahu itu?” 

“Mungkin saja. Tapi lihatlah, betapa tenang kembang-kembang itu dalam genggamanmu. Mungkin mereka hanya ingin mati dalam pelukanmu.” 

Perempuan itu lalu berdiri, memaksa dia yang masih punya bayangan untuk juga berdiri. Payungnya terlalu pendek untuk bisa melindungi perempuan itu dari hujan kalau dia tetap duduk. Tapi perempuan itu menepis payungnya. Hujan lalu berjatuhan di atas tubuh perempuan itu. Hujan seperti melayang-layang di udara ketika sampai di tubuh perempuan itu sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Hujan yang turun di tubuh perempuan itu seperti air terjun di Pyrenees. 

“Aku tidak mau bicara denganmu hari ini. Datanglah lain hari. Atau kalau kau mau, kau boleh juga datang di hari Selasa yang lain.” 

Perempuan itu lalu membalik tubuhnya dan masuk ke dalam, menutup pintunya dan membiarkan laki-laki itu tenggelam dalam hujan. Payung di tangan laki-laki itu tidak pernah ingin dipakainya. Payung itu dibawanya untuk satu-satunya perempuan yang tembus pandang di kota ini. Begitu juga dengan seikat kembang asoka di atas meja. Kembang asoka itu sekarang juga kehujanan. Kembang asoka itu, sekarang menggigil kedinginan. 

*** 

Laki-laki itu menuruti perempuan yang tembus pandang pemilik Café Rouge, dia datang pada hari Selasa berikutnya. Kali ini dia tidak membawa apa-apa di tangannya, tapi perempuan itu sudah siap dengan segelas lemon. Matahari berada tepat di atas kepala laki-laki itu, bayangannya sekarang bersembunyi di bawah telapak kakinya. 

“Apakah kau juga ingin mati dalam pelukanku?” 

“Aku tidak pernah ingin mati. Rasanya seperti orang kalah. Aku ingin tetap hidup dan mencetak angka.” 

“Kau ini aneh.” 

“Kau juga.” 

Seperti yang sudah-sudah, kota ini tiba-tiba berhenti. Orang-orang berhenti untuk melihat perempuan yang tembus pandang itu. Untuk mendengarkan degup jantungnya. Berharap bahwa suatu hari nanti, kaki-kaki mereka cukup kuat untuk digerakkan dan menari diiringi degup jantung perempuan yang tembus pandang itu. 

“Dari mana asalmu?” 

“Aku dari Kota Lama, tapi orang-orang di sini selalu menyebutku datang dari sebuah entah.” 

“Tentu saja. Kami tidak pernah ingat ada sebuah Kota Lama.” 

“Kalian tidak pernah berjalan cukup jauh untuk tahu tentang itu.” 

“Ya. Kami tidak punya bayangan. Tanpa bayangan, kami tidak berani berdiri terlalu lama di bawah matahari.” 

“Ya, ya, ya. Kalian juga tidak punya nama. Kalian memang aneh. Segala sesuatu tentang kalian dan kota ini memang aneh.” 

“Begitulah. Kalau kau membawakanku lagi payung dan seikat kembang asoka, mungkin aku mau ikut denganmu ke kota yang kauceritakan itu. Kota Lamamu itu.” 

“Bwahahaha ... Aku sudah lama tidak melintasi Jalan Thorigny. Tapi kalau kau mau, aku bisa membawakanmu kembang yang lain. Mungkin lily atau iris dari tepi Sungai Seine. Tapi masalahnya, benarkah kau mau ikut denganku ke Kota Lama?” 

“Menurutmu?” 

*** 

Untuk sampai ke stasiun, kita harus menyusuri Jalan Picardie dan belok ke kiri ke arah Jalan Renard. Di sana ada sebuah gedung tua yang muram di tepi Sungai Seine. Di gedung itulah stasiun berada. Hanya ada seorang masinis yang sekaligus merangkap sebagai penjual karcis. Orang-orang di kota ini sudah lama tidak bepergian dengan kereta. Mereka bukan tidak mau bepergian, mereka hanya tidak tahu harus bepergian ke mana. Mereka tahu bahwa rel kereta di kota mereka pasti menuju kepada sesuatu, tapi mereka terlalu takut untuk mencobanya. 

Hari ini hari Selasa. Lagi-lagi Selasa. Dan hari ini, perempuan yang tembus pandang itu memutuskan untuk ikut pergi dengan laki-laki yang masih punya bayangan. Mereka akan ke Kota Lama, kota asal laki-laki itu. Ribuan orang ikut mengantarnya ke stasiun ini. Mereka seperti hendak berkata: “Jangan pergi.” Tapi setiap kali jantung perempuan itu berdegup, mulut mereka terkunci semakin rapat. Jadi sekarang, hanya ada dua suara yang bisa terdengar, degup jantung perempuan itu dan derap langkah ribuan orang yang mengantarnya ke stasiun ini. 

“Apakah kau akan meninggalkan kami?” seorang anak dengan topi jerami bertanya. 

“Ya. Aku ingin berjalan cukup jauh untuk mencari tahu kereta ini menuju ke mana.” 

“Degup jantungmu, akankah kami bisa hidup tanpa degup jantungmu?” kali ini seorang laki-laki dengan kaki panjang sebelah yang bertanya. 

“Entahlah, tapi kalian harus mencobanya. Kalian harus mencari degup jantung yang lain. Atau lebih baik lagi kalau setiap kalian mempunyai degup jantung sendiri-sendiri.” 

Seorang perempuan tua menerobos kerumunan orang-orang yang masih ingin bertanya. Rambutnya sudah putih. Lebih tepat kalau kita sebut perak. Orang-orang di sini mengenalnya sebagai Dia Yang Berwajah Sendu. Wajahnya memang sendu. Dari rambutnya yang perak itu, kita tahu bahwa wajahnya terlalu lama menanggung waktu. Perempuan itu sekarang berada tepat di hadapan perempuan yang tembus pandang. Tingginya hanya sedada perempuan yang tembus pandang, maka perempuan tua itu mendongakkan wajahnya. 

“Kau tidak mengenal laki-laki itu, tidakkah ada rasa takut padamu?” 

“Sesungguhnya, kita tidak saling mengenal satu sama lain, dan kita tidak pernah takut satu dengan yang lainnya bukan? Seperti juga aku tidak takut padamu, Kau Yang Bermuka Sendu.” 

“Perjalananmu jauh. Mungkin kau tidak akan kembali.” 

“Mungkin saja. Aku akan berjalan jauh dan mungkin tidak akan kembali lagi, tapi setidaknya aku pernah. Aku pernah berada di sini dan aku pernah juga berada di sana.” 

“Saat kau kembali, kami semua mungkin sudah tidak ada. Aku tidak akan bicara apa-apa lagi. Tapi satu saja yang akan kukatakan padamu, apa pun yang terjadi, jangan pernah menyentuh laki-laki itu. Bayangannya akan jatuh di atas kepalamu dan kita tidak pernah tahu apa akibatnya bagimu.” 

Perempuan yang tembus pandang itu menutup pintu kereta. Pelan-pelan, kereta mulai meninggalkan stasiun yang muram itu. Meninggalkan orang-orang yang masih ingin bertanya. Meninggalkan kota yang terang dan suram sekaligus. Dari balik jendela, perempuan itu melihat perempuan tua berwajah sendu yang tadi bicara dengannya tumbang. Lalu anak dengan topi jerami juga tumbang. Lalu laki-laki dengan kaki panjang sebelah. Lalu laki-laki lain yang berjari sebelas. Lalu orang lain lagi. Lalu yang lain lagi. Ribuan orang yang mengantarnya tumbang satu demi satu. Di belakang kereta, lampu-lampu padam sendiri. Malam jatuh di kota yang sekarang tanpa degup jantung itu. 

“Apakah kau sedih?” 

“Apakah kau pernah mendengar cerita tentang dua orang, laki-laki dan perempuan, yang diusir dari surga dan tidak pernah kembali lagi?” 

“Apakah kau ingin kembali lagi?” 

“Mungkin mereka ingin kembali. Mungkin mereka hanya tidak punya kereta.” 

Kereta masih terus berjalan lambat dan malam mengikutinya dari belakang. Lorong-lorong panjang di dalam kereta ini tidak banyak bicara, dia hanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Begitu juga dengan lampu-lampu. Begitu juga dengan kipas angin yang dari tadi tidak menyala. Begitu juga dengan bangku-bangku. Mereka semua diam. Hanya bergerak ke kiri dan ke kanan. 

“Tahukah kau kenapa mereka diusir dari surga dan tidak pernah kembali lagi?” 

“Karena mereka ingin berjalan jauh?” 

“Bukan. Mereka melanggar larangan. Siapa pun yang melanggar larangan, tidak akan pernah bisa kembali lagi.” 

“Apakah aku boleh menciummu?” 

“Apakah itu artinya bibirmu akan jatuh di atas bibirku?” 

“Yah, kira-kira seperti itulah.” 

Laki-laki yang masih punya bayangan itu merasa sesuatu yang aneh terjadi padanya. Sesuatu mulai tumbuh di dalam dirinya. Sesuatu yang besar. Semakin besar dan semakin besar. Laki-laki itu merasa tubuhnya begitu ringan, seperti melayang di udara. Yang menahannya tetap ada di dalam kereta adalah pelukan perempuan itu yang begitu erat. Laki-laki itu merasa dirinya dilanda berlaksa-laksa cahaya. 

“Seingatku, kita belum pernah berkenalan sebelumnya. Apakah kau punya nama?” 

“Panggil aku Selasa saja.” 

“Dan kau boleh memanggilku Degup Jantung.” 

*** 

Kalau Anda menyukai cerpen ini, Anda mungkin juga akan menyukai cerita pendek saya yang lain di sini; atau cerita pendek terjemahan dari penulis lain di sini; atau mungkin Anda menyukai cerita mitologi, Anda bisa membacanya di sini.

***

Comments