Epik Gilgamesh: Tablet II. Enkidu Dan Pelacur Shamhat (Mitologi Babilonia)

Mitologi Babilonia

Enkidu duduk di depannya. Shamhat menanggalkan pakaiannya, pakaian pertama dia kenakan pada dirinya sendiri, dan pakaian kedua dia kenakan kepada Enkidu. Dia memegang tangannya, menuntunnya seperti dewa, ke perkemahan penggembala, lokasi kandang domba. Para penggembala berkumpul di sekelilingnya atas kemauan mereka sendiri dan karena dirinya, “Orang ini — betapa miripnya dia dengan Gilgamesh dalam hal bentuk tubuh, dia bertubuh tinggi, megah seperti benteng. Pasti dia lahir di perbukitan, kekuatannya sama besarnya dengan bongkahan batu dari langit.”

Mereka menaruh roti di hadapannya, mereka menaruh bir di hadapannya. Enkidu tidak memakan roti itu, dia memperhatikan dengan saksama saat melihatnya, cara makan roti yang bahkan belum pernah diajarkan kepadanya, Enkidu tidak tahu cara minum bir, cara minum bir yang bahkan belum pernah diajarkan kepadanya. Pelacur itu berkata kepadanya, kepada Enkidu, “Makanlah roti itu, Enkidu, itu cara hidup orang-orang, minumlah bir itu, itu kebiasaan di negeri ini!”

Enkidu memakan makanan itu sampai dia kenyang, dia minum bir sebanyak tujuh kendi, dan menjadi besar dan bernyanyi dengan gembira! Dia sangat gembira dan wajahnya berseri-seri. Dia menyiram tubuhnya yang berbulu dengan air, dan menggosok tubuhnya dengan minyak, dan berubah menjadi manusia. Dia mengenakan pakaian dan menjadi seperti seorang pahlawan. Dia mengambil senjatanya dan mengejar singa-singa sehingga para gembala bisa makan. Dia mengusir serigala-serigala, dan mengejar singa-singa. Dengan Enkidu sebagai penjaga mereka, para gembala bisa berbaring. Seorang laki-laki yang bijaksana, seorang pemuda yang unik, dia tingginya dua kali dari laki-laki normal.

Lalu dia mengangkat matanya dan melihat seorang laki-laki. Dia berkata kepada pelacur itu, "Shamhat, suruh orang itu pergi! Mengapa dia datang? Aku akan memanggil namanya!"

Pelacur itu memanggil laki-laki itu dan menghampirinya serta berbicara dengannya. "Anak muda, mengapa kamu terburu-buru! Mengapa langkahmu begitu cepat!"

Pemuda itu berbicara, berkata kepada Enkidu, "Mereka mengundangku ke pesta pernikahan, seperti adat istiadat penduduk di sini. Aku sudah menumpuk hidangan lezat untuk pesta pernikahan di atas piring pesta. Untuk sang raja Uruk yang berpasir luas, bukalah tabir untuk memilih seorang gadis. Untuk Gilgamesh, sang raja Uruk yang berpasir luas, bukalah tabir untuk memilih seorang gadis. Dia akan berhubungan dengan 'istri yang ditakdirkan,' dia yang pertama, suaminya setelahnya. Hal ini diperintahkan oleh nasihat An, sejak terputusnya tali pusarnya itu sudah ditakdirkan untuknya."

Mendengar ucapan pemuda itu, wajah Enkidu memerah karena marah. Enkidu berjalan di depan, dan Shamhat mengikutinya. Dia berjalan menyusuri jalan Uruk-Kandang-Domba. Dia menghalangi jalan masuk ke Uruk. Tanah Uruk berdiri di sekitarnya, tanah itu berkumpul di sekitarnya. Sekelompok orang berdesak-desakan di depannya, kaum lelaki berkerumun di sekitarnya. Mereka mencium kakinya seperti kaki bayi kecil.

Bagi Ishara, ranjang pernikahan sudah siap, bagi Gilgamesh, sebagai dewa, pengantin sudah disiapkan. Enkidu memblokir jalan masuk ke kamar pernikahan, dan tidak mengizinkan Gilgamreh dibawa masuk. Mereka bergulat satu sama lain di pintu ke kamar pernikahan, di jalan mereka saling menyerang, alun-alun umum di negeri itu. Tiang pintu bergetar dan dinding berguncang.

Gilgamesh menekukkan lututnya, dengan kaki lainnya di tanah, kemarahannya berkurang dan dia membalikkan dadanya. Setelah dia membalikkan dadanya Enkidu berkata kepada Gilgamesh, "Ibumu sudah melahirkanmu yang sangat unik, Sapi Liar Ninsun, sudah membuat kepalamu diangkat di atas manusia lain, Enlil sudah menentukan bagimu kekuasaan atas rakyat."

Ibu Gilgamesh membuka mulutnya untuk berbicara, berkata kepada putranya, Sapi Liar Ninsun membuka mulutnya untuk berbicara, berkata kepada Gilgamesh, “Dia adalah yang terkuat di negeri ini, kekuatan yang dimilikinya, kekuatannya sebesar bongkahan batu dari langit, tinggi besar, megah seperti benteng pertahanan. Enkidu tidak memiliki ayah atau ibu, rambutnya yang berbulu tidak ada yang memotong. Dia lahir di alam liar, tak ada yang membesarkannya.”

Enkidu berdiri di sana, dan mendengar kata-kata Ninsun. Dia mendengar apa yang dikatakannya, setelah memikirkannya, dia duduk sambil menangis, matanya dipenuhi air mata, lengannya terasa lemas, kekuatannya melemah. Gilgamesh membuka mulutnya untuk berbicara, berkata kepada Enkidu, “Mengapa, temanku, matamu dipenuhi dengan air mata, lenganmu lemas, dan kekuatanmu melemah?”

Enkidu berkata Gilgamesh, “Temanku, hatiku dibuat sakit. Karena terisak-isak, kakiku gemetar, kengerian sudah memasuki hatiku.” Mereka lalu saling berpegangan tangan, dan Enkidu membuat pernyataan setia kepada Gilgamesh. Mereka kemudian saling berciuman dan menjadi sahabat.

Suatu hari, sang raja memutuskan untuk pergi ke hutan cedar tempat tinggal laki-laki itu. Gilgamesh memutuskan untuk pergi ke hutan cedar tempat tinggal laki-laki itu. Gilgamesh membuka mulutnya untuk berbicara, berkata kepada Enkidu, "Enkidu, karena manusia tidak bisa melewati akhir kehidupan, aku ingin pergi ke pegunungan untuk membangun ketenaranku di sana. Di mana ada ketenaran yang bisa dibangun di sana, aku akan membangun reputasiku, dan di mana tidak ada ketenaran yang bisa dibangun di sana, aku akan membangun reputasi para dewa."

Enkidu membuka mulutnya untuk berbicara, berkata kepada Gilgamesh, “Bagaimana kita bisa pergi, temanku, ke hutan cedar? Untuk menjaga pohon cedar tetap aman, Enlil menetapkan takdirnya untuk menjadi kengerian bagi manusia, perjalanan itu bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan. Dia yang menjaga hutan cedar begitu perkasa, tidak pernah beristirahat, Humbaba, suaranya adalah air bah, ucapannya adalah api, nafasnya adalah kematian. Dia mendengar gumaman di hutannya sejauh enam puluh liga, siapakah yang berani memasuki hutannya? Adad yang pertama, tapi dia yang kedua! Siapakah di antara para Igigi yang akan menentangnya? Untuk menjaga pohon cedar tetap aman, Enlil menetapkan takdirnya untuk menjadi kengerian bagi manusia. Dan dia yang berani memasuki hutannya, kelemahan akan mencengkeramnya!”

Gilgamesh membuka mulutnya untuk berbicara, berkata kepada Enkidu, “Mengapa, temanku, kau berbicara seperti orang lemah? Dengan bicaramu yang lemah, kau sudah mengusik hatiku! Adapun manusia, hari-harinya sudah dihitung, semua yang pernah dia lakukan hanyalah angin. Sekarang kau takut mati, apa yang terjadi dengan kekuatanmu yang berani! Aku akan berjalan di depanmu, dan mulutmu bisa berseru, 'Mendekatlah, jangan takut!' Jika aku jatuh, aku akan membangun ketenaranku. Mereka akan mengatakan, 'Gilgamesh-lah yang bertempur dengan Humbaba yang mengerikan!' Kau dilahirkan dan dibesarkan di alam liar, seekor singa melompat kepadamu, jadi kau sudah mengalami semuanya! Aku akan melaksanakannya dan aku akan menebang pohon cedar. Akulah yang akan membangun ketenaran untuk abadi! Ayo, temanku, aku akan pergi ke pandai besi dan meminta mereka melemparkan senjata di hadapan kita!"

Sambil saling berpegangan tangan mereka pergi ke pandai besi.  Para pandai besi duduk dan berdiskusi satu sama lain. "Kita harus membuat kapak untuk mereka, kapak yang masing-masing harus seberat tujuh talenta. Kita harus membuat pedang untuk mereka, pedang yang masing-masing harus seberat tujuh talenta. Kita harus membuat sabuk untuk mereka, sabuk yang masing-masing harus seberat satu talenta.”

Gilgamesh berkata kepada orang-orang Uruk, "Dengarkan aku, orang-orang dari kandang domba Uruk! Kalian, orang-orang Uruk, yang mengerti pertempuran! Aku sudah memberanikan diri untuk menempuh jalan yang jauh ke tempat Humbaba berada. Aku akan menghadapi pertempuran yang tidak aku ketahui, aku akan menempuh jalan yang tidak kuketahui. Berikanlah aku restumu, agar aku bisa pergi, agar aku bisa melihat wajahmu lagi dengan aman, dan masuk melalui gerbang Uruk dengan senang hati! Aku akan kembali dan melaksanakan festival akÄ«tu dua kali dalam setahun, akÄ«tu akan kulakukan dua kali dalam setahun. Biarkan akÄ«tu terjadi dan kegembiraan dimulai, biarlah genderang ditabuh di hadapan Sapi Liar Ninsun!”

Enkidu memberikan nasihat kepada para tetua, dan para pemuda Uruk, yang mengerti pertempuran, “Katakan kepadanya bahwa dia tidak boleh pergi ke hutan cedar, perjalanan itu bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan. Orang itu begitu perkasa, tidak pernah beristirahat. Humbaba, suaranya adalah air bah, ucapannya adalah api, nafasnya adalah kematian. Dia mendengar gumaman di hutannya sejauh enam puluh liga, siapakah yang berani memasuki hutannya? Adad yang pertama, tapi dia yang kedua! Siapakah di antara para Igigi yang akan menentangnya? Untuk menjaga pohon cedar tetap aman, Enlil menetapkan takdirnya untuk menjadi kengerian bagi manusia. Dan dia yang berani memasuki hutannya, kelemahan akan mencengkeramnya!”

Para tetua bangkit, mereka mengungkapkan pendapat mereka kepada Gilgamesh sebagai balasannya, “Kau masih muda, Gilgamesh, hatimu terbawa oleh semangat, dan hal yang kau bicarakan, kau tidak mengerti. Humbaba, suaranya adalah air bah, ucapannya adalah api, nafasnya adalah kematian. Dia mendengar gumaman di hutannya sejauh enam puluh liga, siapakah yang berani memasuki hutannya? Adad yang pertama, tapi dia yang kedua! Siapakah di antara para Igigi yang akan menentangnya? Untuk menjaga pohon cedar tetap aman, Enlil menetapkan takdirnya untuk menjadi kengerian bagi manusia. Dan dia yang berani memasuki hutannya, kelemahan akan mencengkeramnya!”

***

Kalau Anda kebetulan 'tersesat' di sini, Anda mungkin ingin membaca kisah Gilgamesh ini dari awal di siniatau membaca kelanjutannya di sini.

***

Comments

Populer